Makam sebagai Pelarian Terakhir Burung

July 5th, 2008

Di kota-kota besar, dimana pertumbuhan penduduk dan pembangunan begitu cepat akan menimbulkan masalah bagi lingkungan. Salah satunya adalah hilangya ruang terbuka hijau sebagai habitat burung. Pemukiman di wilayah perkotaan tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk tumbuhnya tanaman-tanaman di wilayah ini. Jangankan tumbuh-tumbuhan seperti semak, ilalang atau rerumputan sebagai material sarang, tanaman-tanaman seperti pohon sebagai sumber pakan dan tempat bermain burung pun sangat jarang.

Satu-satunya ruang terbuka hijau yang masih mungkin akan tersisa di daerah perkotaan adalah area makam (cemetary). Bukan suatu hal yang tidak mungkin kalau nantinya di saat daerah perkotaan tidak mampu lagi memelihara ruang terbuka hijau, maka burung-burung tersebut akan memanfaatkan area makam sebagai habitat barunya.

Kita tahu makam adalah suatu daerah yang minim terhadap gangguan manusia. Hampir tidak ada ancaman yang serius bagi kehidupan burung. Apalagi makam tersebut adalah makam lama dan dinilai oleh masyarakat angker. Semakin rimbun dan semakin angker suatu makam maka semakin tinggi tingkat kemampuannya dalam menjaga keberadaan burung.

Di daerah Tembalang, tepatnya makam belakang Fakultas Peternakan UNDIP merupakan salah satunya. Tekukur, Cipoh, Cekakak Jawa, Cekakak Sungai, Wiwik Uncuing, Wiwik Kelabu, Kutilang, Gelatik Watu, Gereja, Bondol Peking, Cinenen Kelabu, Cinenen Pisang dan Dederuk pernah saya jumpai di sana dalam satu kali pengamatan. Jumlahnya pun cukup lumayan. Dengan area yang tidak begitu luas hanya sekitar 100 meter persegi, memiliki populasi burung yang cukup banyak.

Tentunya akan lebih bagus lagi jika penghijauan di area makam tersebut dilakukan dengan menanam tanaman-tanaman yang disukai burung. Hal tersebut bisa menjadi pilihan terakhir bagi konservasi burung, atau setidaknya sebagai langkah antisipasi untuk menjaga eksistensi burung di daerah perkotaan.

(posted by dwi putranto in “Makam sebagai Pelarian Terakhir Burung”, July 5th, 2008)

Did you like this? Share it:

BBM Naik Birdwatching Tetap Asyik

July 5th, 2008

Tepat jam 21.00 WIB, hari Jumat tanggal 23 Mei 2008 Presiden SBY mengumumkan kenaikan harga BBM. Hal tersebut terjadi berkaitan dengan melonjaknya harga minyak dunia. Hal tersebut tentunya menjadi berita buruk bagi kami karena keesokan harinya Sabtu 24 Mei kami berencana melakukan pengamatan burung di Gedong Songo. Jumat malam saya berusaha antri di SPBU terdekat ternyata antrian sudah panjang sekali. Karena antriannya terlalu panjang saya jadi malas untuk mengantri.
Keesokan paginya terpaksa saya harus membeli premium dengan harga baru 6000/liter. Yah antara terpaksa dan tidak terpaksa. Tapi beruntung saat itu ada teman-teman kami dari Biologi UNDIP yang sedang akan melakukan praktikum lapangan di Gedong Songo, kebetulan juga beberapa diantaranya kami kenal. Dengan sedikit merayu, bermanis-manis bibir dan bertampang memelas akhirnya kami dipersilahkan ikut kedalam rombongan. Sepeda motor saya titipkan di salah satu kos anggota rombongan yang terdekat. Continue reading »

Did you like this? Share it:

Pelatihan Bloging dan Jurnalistik Dasar SBC

July 5th, 2008

(pelatihan pembuatan blog di Basecamp SBC)

Cerita dari keluarga Burung Madu Sriganti Nectarina jugularis dari sarang di salah satu pohon Asem Kranji di sudut Gedung Biologi UNDIP.

Semarang, 25 Mei 2008. Saat saya mencari makan buat anak-anak, saya melihat segerombolan mahasiswa-mahasiswi berkumpul di salah satu ruangan di gedung Laboratorium Biologi UNDIP. Dari baju dan jaket yang mereka kenakan kelihatannya mereka adalah mahasiswa-mahasiswi dari PELATUK UNNES, GREEN COMMUNITY UNNES DAN HALIASTER UNDIP. Mereka menghadiri suatu pertemuan yang digagas oleh Semarang Bird Community (SBC). Pertemuan ini bertujuan ingin memperkenalkan kepada kawan-kawan yang baru bergabung ke dalam masing-masing organisasi tersebut mengenai SBC.
Pertemuan dipimpin oleh koordinator umum SBC Bapak Karyadi Baskoro, yang selanjutnya memaparkan mengenai sejarah berdirinya SBC yang dulu bernama KOPASUS (Komunitas Pengamat Burung Suka-Suka Semarang). Kemudian visi dan misi SBC serta tujuan dan program-program SBC dalam kurun 1 semester ke depan di tahun 2008. Continue reading »

Did you like this? Share it:

Uniknya Jawa

July 5th, 2008

Terlepas dari uniknya Jawa dari sudut pandang antropogenik, Jawa menyimpan keunikan lain yaitu berupa kekayaan keanekaragaman hayati. Memang, meskipun luas wilayah Pulau Jawa tidak terlalu besar, serta tingkat kerusakan habitat yang cukup besar akibat perubahan tata guna lahan sejak dahulu kala, namun masih ada “sisa” keanekaragaman hayati yang bernilai. Beberapa jenis diantaranya merupakan jenis endemik, yang artinya hanya dapat dijumpai di Jawa saja dan tidak ada di daerah lain.

Di Pulau Jawa tercatat memiliki 6.534 jenis flora yang termasuk dalam 580 marga. Dari sekian banyak jenis flora tersebut, telah diketahui kekayaan jenis Paku-pakuan sebanyak 519 jenis, gymnosperm 29 jenis, monokotil 1924 jenis, dan dikotil 4062 jenis. Banyaknya catatan jenis-jenis flora ini tidaklah mengherankan, karena Jawa merupakan lokasi yang paling diketahui mengenai botaninya di Asia Tenggara.

Seringkali pula disebutkan bahwa Jawa hanya memiliki sedikit spesies endemik. Namun demikian tercatat tidak kurang 325 flora endemik. Dari 731 jenis anggrek yang ada di Jawa, terdapat 217 anggrek endemik. Dapat disebutkan beberapa contoh flora endemik yang ada di Jawa: Vanda tricolor (Anggrek), Nastus elegantissimus, Bambusa cornuta (Bambu), Zingiber odoriferum (Empon-empon), Pinanga javanica (Palem) Calamus melanomola (Rotan), Anaphalis javanica (Edelweiss), Pisonia grandis (Wijaya Kusuma).

Kekayaan fauna di Pulau Jawa juga tidak kalah uniknya. Paling tidak ada sekitar 137 jenis mamalia, yang terdiri dari 18 jenis tikus, 68 jenis kelelawar, serta 18 jenis paus dan 10 jenis lumba-lumba di perairan sekitarnya. Dari 137 jenis itu, 22 jenis diantaranya merupakan jenis endemik atau sekitar 16% dari total jenis di Indonesia.

Beberapa jenis mamalia endemik diantaranya: Lutung jawa (Semnophitecus auratus), Surili (Prebystis comata), Owa (Hylobates moloch), Rusa Jawa (Cervus timorensis) dan Rusa Bawean (Axis kuhli).
Di Jawa juga pernah atau tercatat beberapa jenis mamalia spektakuler, misalnya Pteropus vampyrus yang merupakan kelelawar terbesar di dunia. Kemudian Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) yang legendaris, serta Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)

Untuk kelompok burung, Indonesia memiliki 1538 jenis, dengan 381 jenis diantaranya merupakan endemik. Jawa dihuni oleh hampir sepertiga kekayaan avifauna Indonesia, yaitu 430 jenis, dimana 340 diantaranya penetap dan 20 jenis endemik.
1.     Spizaetus bartelsi :    Elang Jawa
2.     Charadrius javanicus :    Cerek Jawa
3.     Centropus nigrorufus :    Bubut Jawa
4.     Otus angelinae :    Celepuk Jawa
5.     Collocalia vulcanorum :    Walet gunung
6.     Harpactes reinwardtii :    Luntur gunung
7.     Megalaima corvina :    Takur bututut
8.     Cochoa azurea :    Ciung-mungkal Jawa
9.     Stachyris grammiceps :    Tepus dada-putih
10.     Stachyris thoracica :    Tepus leher-putih
11.     Garrulax rufifrons :    Poksai kuda
12.     Alcippe pyrrhoptera :    Wergan Jawa
13.     Crocias albonotatus :    Burung matahari
14.     Tesia superciliaris :    Tesia Jawa
15.     Rhipidura phoenicura :    Kipasan ekor-merah
16.     Rhipidura euryura :    Kipasan bukit
17.     Psaltria exilis :    Cerecet Jawa
18.     Aethopyga eximia :    Burung-madu gunung
19.     Aethopyga mystacalis :    Burung-madu Jawa

Kelompok                           Jumlah jenis                      Jumlah endemik

Burung (Aves)                                   430                                           19
Ikan (Pisces)                                     132                                           10
Mamalia                                           137                                            22
Tikus (Rodentia)                                18                                               7
Ular                                                   84
Kadal                                                 42
Penyu tawar                                         8
Reptilia                                            120                                              6
Amphibia                                           36                                            11
Kupu-kupu (Lepidopetra)                 629                                           46
Ngengat                                         >100                                           >6
Trichoptera                                        96                                            48
Kumbang (Coleoptera)                     502                                           209
Aradidae                                            31                                               7
Cocopet (Dermaptera)                     118                                             29
Belalang (Orthopetra)                         50                                            20
Phasmida                                         125                                            71
Capung (Odonata)                            150                                            26
Collembola                                        73                                             41
Laba-Kala                                          10                                              -
Kepiting Tawar                                   11                                              8
Moluska                                           286                                            65
Anggrek                                           731                                          217
Paku-pakuan                                   519
Gymnosperm                                     29
Monokotil                                      1924
Dikotil                                           4062
Total flora                                      4598                                          325

Hal yang menjadi ironi, dari sekian banyak kekayaan keanekaragaman hayati di Jawa, hanya beberapa atau masih sedikit yang menjadi perhatian. Jenis-jenis istimiewa atau spektakuler saja yang bernasib baik. Cukup banyak manusia dan lembaga yang memperhatikan, meneliti, dan mencari dana demi kelangsungan hidupnya. Badak Jawa, Harimau Jawa, Elang Jawa adalah beberapa contoh diantaranya. Namun bagaimana jenis lain yang tidak seberuntung mereka? Apakah ada yang peduli atau bahkan sekedar mengenal jenis lain yang “tidak istimewa”, meskipun sebenarnya juga “istimewa” karena keberadaannya hanya ada di Jawa.

Sebut saja misal, apakah ada yang kenal, peduli dan perhatian dengan Philautus jacobsoni atau Katak Pohon Ungaran? Sejenis katak yang tidak hanya endemik di Jawa, namun bahkan hanya dapat di jumpai di Gunung Ungaran! Sedemikian langka dan sedikit pengetahuan kita tentangnya, belum ada foto dan spesimen yang dikoleksi museum, hanya catatan deskripsi semata.

Sampai saat ini Jawa masih unik. Namun sampai kapan Jawa masih terus memiliki segala keunikannya, jawabnya terletak pada manusia yang tinggal di dalamnya pula.

(posted by karyadi baskoro in “Uniknya Jawa”, July 5th 2008)

Did you like this? Share it: