July 6th, 2008
Untuk mencintai burung dan melestarikan burung sebenarnya sangat mudah. Jika Anda benar-benar orang yang peduli terhadap kelestarian burung dan habitatnya, dan Anda adalah seseorang yang tidak memiliki waktu yang banyak, Anda bisa berkontribusi tak langsung. Kami tidak memaksakan Anda untuk bergabung dengan kami, mengikuti setiap kegiatan kami, apalagi memaksakan Anda untuk membuang waktu Anda yang berharga untuk menjadi seperti kami.
Ada cara mudah berpartisipasi dalam mendukung kegiatan kami, di antaranya adalah sebagai berikut : Continue reading »
Did you like this? Share it:
Filed under Umum | Comment (0)
July 6th, 2008
Indonesia di mata dunia adalah negara yang memiliki keanekaragamanjenis makhluk hidup yang sangat tinggi. Mereka bahkan menjuluki Indonesia sebagai “megabiodiversity country“. Bukan hanya itu saja Indonesia juga dijuluki dunia sebagai negara dengan tingkat endemisitas yang sangat tinggi. Anugrah tersebut mungkin akan membuat kita menjadi bangga sebagai bangsa Indonesia, namun ada kemungkinan itu juga merupakan tanggung jawab yang sangat berat bagi kita.
Kekayaan yang sangat besar itu tentu harus kita jaga dan kita selamatkan dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Besarnya kekayaan yang kita miliki menuntut adanya suatu program inventarisasi. Begitu bernilainya setiap kekayaan yang kita miliki dan begitu besarnya luasan area Indonesia, memaksa kita untuk cancut tali wanda (Indonesia: ikut berpartsipasi aktif) untuk menyelamatkan kekayaan tersebut. Partisispiasi aktif dari setiap komunitas pelestari flora dan fauna di setiap daerah akan mempermudah program inventarisasi tersebut. Salah satu pendukung program inventarisasi tersebut adalah Semarang Bird Community (SBC). Continue reading »
Did you like this? Share it:
Filed under Umum | Comment (0)
July 5th, 2008
Saat mentari hendak kembali ke peraduaannya. Saat siang beranjak senja. Kami di markas UNDIP Tembalang asyik menikmati segelas caffeine. Liak-liuk asap di atas permukaan kopi seindah liukan goyang ngebor Inul Daratista. Hangatnya kopi sehangat persahabatan yang tercipta antar anggota dan pengurus yang ada saat itu. Ditemani singkong rebus yang diambil dari kebun belakang kampus. Kamipun menikmati indahnya sore hari itu.
Petang menjelang, sang kelelawar berhamburan dari atap kampus Fakultas Mesin UNDIP. Jumlahnya ratusan atau mungkin mencapai ribuan. Berhamburan menyongsong malam yang mulai kembali datang. Datang dari arah timur dengan kecepatan tinggi seekor alap-alap. Kami identifikasi sebagai alap alap sapi (Falco moluccensis).
Mengepak, meluncur, menukik menyambar salah satu kelelawar yang beterbangan. Karena tidak menemui sasarannya sang alap-alap pun terbang ke atas dan berbalik arah. Mengepak, menukik dan meluncur.
Happpp!!!
Akhirnya satu ekor kelelawar berada dalam genggamannya. Sembari terbang ia pun mematuki tubuh mamalia terbang itu. Kemudian hinggap di salah satu menara BTS di sekitar situ, menikmati setiap centi tubuh sang penguasa malam.
Setelah habis menyantap satu ekor kelelawar sang falco belum merasa puas, perutnya teras begitu lapar hingga ia harus terbang kembali untuk berburu. Mengepak, menukik dan meluncur deras menjadi senjata andalannya dalam beruburu. Gerombolan kelelawarpun lari tunggang langgang dikejarnya.
Happp!!!
Satu lagi kelelawar yang ditangkapnya. Kali ini sang falco menikmatinya di atas atap Gedung Fakultas MIPA UNDIP. Mencengkeram, mencabik, menelan kelelawar hasil buruannya.
Dua ekor kelelawar belum membuatnya merasa kenyang. Satu ekor kelelwar diburunya sebagai hidangan penutup, untuk mengganjal perutnya saat hari berselimut malam.
Pertunjukan yang luar biasa menyaksikan Falco Airshow pada sore itu. Penasaran dengan bentuk, warna dan tingkah Alap-alap Sapi (Falco moluccensis) di alam? Makanya, mulailah mengamati burung sekarang juga!!!
(posted by tomang in “Falco Airshow”, July 5th 2008)
Did you like this? Share it:
Filed under Umum | Comment (0)
July 5th, 2008
Fenomena migrasi burung telah terjadi sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Fenomena ini terjadi karena beberapa sebab diantaranya adalah untuk menghindari suatu musim yang kurang bersahabat (terlalu dingin atau terlalu panas) dan atau karena menurunnya jumlah pakan/mangsa burung tersebut dalam kurun waktu sementara.
Ada beberapa hipotesis yang telah dikemukakan bahwa proses migrasi burung dari tempat asal menuju tempat hidup baru -sementara- nya itu menggunakan bantuan matahari dan kemampuan mereka dalam mendeteksi medan magnet bumi.
Seperti diketahui pada burung teruatama burung air atau burung pantai tetap melakukan migrasi pada malam hari, dimana cahaya sangat minim untuk mengenali suatu objek benda apalagi untuk mengenali arah. Beberapa ilmuwan meyakini bahwa mereka melakukan migrasi berdasarkan medan magnet bumi
Para ilmuwan telah mencoba menguak misteri kemampuan burung dalam mendeteksi medan magnet hampir selama empat dekade, namun belum ada pendekatan model/teori yang cukup kuat yang mampu membuktikan kemampuan tersebut.
Teori awal mengenai kemampuan burung dalam mendeteksi medan magnet dikemukakan oleh Klaus Schulten dari Universitas Illinois, AS. Beliau mengungkapkan bahwa terdapat suatu molekul-molekul spesifik pada mata atau otak burung-burung migran yang peka terhadap medan magnetik bumi. Teori ini tentunya menimbulkan perdebatan dikalangan ilmuwan. Kemudian teori ini mulai dipelajari untuk dimentahkan atau dibuktikan oleh beberapa ilmuwan, namun hingga hampir empat puluh tahunan tak satupun ilmuwan yang mampu membuktikan teori tersebut.
Baru-baru ini, seperti dilansir dalam Jurnal Ilmiah Nature, para peneliti berhasil menemukan suatu model teori yang hampir mendekati pendapat Klaus Schulten. Henrik Mouritsen dari Universitas Oldenburg, Jerman berpendapat bahwa kemungkinan molekul-molekul tersebut adalah cryptochrome. Beliau menjelaskan bahwa protein tersebut terdapat dalam retina burung migran. Sel-sel protein juga diketahui aktif setiap petang menjelang saat burung tersebut tidak dapat mengandalkan cahaya untuk melihat benda-benda disekitarnya.
Cryptochrome selama ini dikenal sebagai protein yang sensitif terhadap cahaya yang berperan besar dalam mengatur jam biologi seperti pengaturan tahap pertumbuhan pada tanaman dan waktu kawin.
Dikarenakan membuat tiruan atau menemukan protein cryptochrome sangat sulit, maka untuk mempelajarinya digunakan senyawa yang memiliki sifat yang mirip yaitu CPF (carrotenoid-porphyrin-fullerene). CPF jika dipaparkan kepadanya suatu medan magnet, meskipun sangat kecil, akan bereaksi dengan melepaskan dua jenis radikal bebas.
Rekan Mouritsen, Peter Hore dari Universitas Oxford dapat mengatur konsentrasi radikal bebas sesuai medan magnet yang dipaparkan. Hore berpendapat cryptochrome pada burung mungkin diaktifkan oleh cahaya biru yang muncul saat senja dan mulai bekerja dengan mekanisme pelepasan radikal bebas untuk melihat medan magnet bumi. Namun model pendekatan tersebut belum menjawab pertanyaan secara lebih detail tentang bagaimana burung mendeteksi medan magnet bumi. Mauritsen meyakini bahwa mata burung meiliki lapisan penglihatan ganda. Ketika protein diaktifkan oleh cahaya, layar visual akan berubah menjadi semacam panel radar yang akan melihat garis-garis medan magnet bumi seperti radar pada pesawat.
(sumber : Kompas, kamis 1 mei 2008 dari WAH sumber New Scientist)
Did you like this? Share it:
Filed under Umum | Comment (0)