<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Semarang Bird Community</title>
	<atom:link href="http://sbc.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sbc.web.id</link>
	<description>Komunitas Pelestari Burung Semarang</description>
	<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 10:39:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Peringatan Hari Puspa &#038; Fauna bersama PAUD Kucica</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/11/peringatan-hari-puspa-fauna-bersama-paud-kucicaperingatan-hari-puspa-fauna-bersama-paud-kucica/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/11/peringatan-hari-puspa-fauna-bersama-paud-kucicaperingatan-hari-puspa-fauna-bersama-paud-kucica/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 15:13:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[green community]]></category>

		<category><![CDATA[haliaster]]></category>

		<category><![CDATA[komunitas]]></category>

		<category><![CDATA[pelatuk]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>

		<category><![CDATA[PUD Kucica]]></category>

		<category><![CDATA[Semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Semarang, 5 November 2009.
Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Fauna yang jatuh pada tanggal 6 November, Semarang Bird Community (SBC) diminta untuk mendampingi adik-adik dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kucica Ungaran dan TK Al Hidayah Ambarawa.
SBC merupakan salah satu komunitas yang sangat peduli terhadap pendidikan lingkungan hidup bagi generasi muda di wilayah Semarang. Hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/cinta-puspa-n-fauna.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-211" title="cinta-puspa-n-fauna" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/cinta-puspa-n-fauna-300x224.jpg" alt="cinta-puspa-n-fauna" width="300" height="224" /></a>Semarang, 5 November 2009.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Fauna yang jatuh pada tanggal 6 November, Semarang Bird Community (SBC) diminta untuk mendampingi adik-adik dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kucica Ungaran dan TK Al Hidayah Ambarawa.</p>
<p style="text-align: justify;">SBC merupakan salah satu komunitas yang sangat peduli terhadap pendidikan lingkungan hidup bagi generasi muda di wilayah Semarang. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi SBC karena baru pertama kali harus memberikan semangat dan budaya pelestarian lingkungan hidup kepada anak-anak usia 3-5 tahun. Kali ini SBC diwakili oleh Tomang, Dani, Nindya, Galuh, Shagy, Ari, Yogi sebagai perwakilan dari Haliaster UNDIP dan Falik, Dini, Fajar, Feri, Ruby sebagai perwakilan dari Pelatuk dan Green Community UNNES.<span id="more-210"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan diawali dengan permainan-permainan yang bisa mencairkan suasana. Tentunya dengan permainan yang memiliki misi pendidikan lingkungan hidup. Kemudian peserta kegiatan yang berupa anak-anak tersebut didampingi untuk mengenal salah satu bunga. Peserta didampingi untuk menuju kebun bunga Krisan. Pendamping menjelaskan tentang bagian-bagian bunga dan berbagai hal terkait dengan bunga krisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, kegiatan dilakukan dalam ruangan TK Al Hidayah. Di sini para peserta yang semuanya adalah anak-anak disuguhi dengan sebuah dongeng tentang burung. Dongeng dibawakan oleh Kang Tomang. Dongeng ini dilakukan secara interaktif dan sangat menarik. Dongeng tersebut berisi tentang banyak hal. Ciri-ciri burung, nama dan jenis burung, peran burung bagi lingkungan dan manusia, bagaimana melestarikan burung dan lingkungan hidup  serta apa jadinya jika tidak ada burung.</p>
<p style="text-align: justify;">Di akhir cerita kang Tomang melemparkan pertanyaan tentang bagaimana cara melestarikan lingkungan hidup dan pertanyaan tersebut langsung disambut dengan semangat peserta yang saling berebut untuk menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai permainan penutup peserta diajak untuk mengelompokkan antara gambar burung dengan bukan burung yang difasilitasi oleh Mbak Dini. Para peserta terlihat sangat antusias dalam permainan ini.Mereka saling berlomba untuk mengelompokkan jenis makhluk hidup tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan mengesankan bagi para peserta dan pendamping dari SBC. Karen amelalui kegiatan ini diharapkan lahir jiwa-jiwa konservasi muda yang akan menggantikan atau beriringan dengan semangat dan jiwa kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam lestari</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/11/peringatan-hari-puspa-fauna-bersama-paud-kucicaperingatan-hari-puspa-fauna-bersama-paud-kucica/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Liputan Semarang Birdrace Competition 2009</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/11/liputan-semarang-birdrace-competition-2009/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/11/liputan-semarang-birdrace-competition-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 14:42:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[bird story telling]]></category>

		<category><![CDATA[burung]]></category>

		<category><![CDATA[Komunitas Burung Semarang]]></category>

		<category><![CDATA[Limbangan]]></category>

		<category><![CDATA[Semarang Bird Community]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Semarang Birdrace Competition merupakan kegiatan Lomba Pengamatan Burung yang diadakan mahsiswa/i Biologi Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kali ini perhelatan tersebut diadakan di desa Limbangan. Desa Limbangan merupakan salah satu desa binaan Biologi UNNES dalam transformasi menjadi desa wisata konservasi alam.
Semarang Bird Community sebagai komunitas konservasi burung yang ada Semarang diberi kepercayaan untuk menjadi juri dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/semarang-birdrace2009.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-215" title="semarang-birdrace2009" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/semarang-birdrace2009-300x200.jpg" alt="semarang-birdrace2009" width="300" height="200" /></a>Semarang Birdrace Competition merupakan kegiatan Lomba Pengamatan Burung yang diadakan mahsiswa/i Biologi Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kali ini perhelatan tersebut diadakan di desa Limbangan. Desa Limbangan merupakan salah satu desa binaan Biologi UNNES dalam transformasi menjadi desa wisata konservasi alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Semarang Bird Community sebagai komunitas konservasi burung yang ada Semarang diberi kepercayaan untuk menjadi juri dan sebagai Panitia Pendukung kegiatan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tajuk yang diambil sebagai semangat kegiatan ini adalah &#8220;Pengembangan Desa Wisata Pendidikan Konservasi melalui Kegiaan Birdwatching&#8221;. Sasaran dari kegiatan ini adalah memperkenalkan kegiatan pengamatan burung sebagai bagian penanaman budaya konservasi burung pada kaum muda setingkat sekolah menengah atas, khususnya siswa-siswa SMU sekitar desa Limbangan. Selain itu juga sebagai kegiatan sadar lingkungan bagi masyarakat desa Limbangan itu sendiri.<span id="more-205"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Desa Limbangan, tepatnya dukuh Banuwindu, Kendal memiliki potensi yang begitu besar sebagai desa wisata pendidikan konservasi, karena di desa tersebut masih memiliki keanekaragaman jenis burung yang sangat tinggi. Setidaknya tercatat 82 jenis burung, dengan beberapa diantaranya memiliki catatan konservasi penting. Selain itu juga desa tersebut digunakan sebagai jalur perlintasan migrasi raptor yang bermigrasi dari belahan bumi utara.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan ini turut diramaikan oleh SMU 1 Limbangan, SMU Don Bosco, SMU Masehi, SMU Tulung Agung. Untuk Kategori mahasiswa diikuti oeh beberapa organisasi intra kampus, seperti Haliaster UNDIP, KSSL UGM, Bionic UNY, Nycticorax UNJ, KPPB Prenjak IPB, Universitas Negeri Malang dan Institut Teknologi Surabaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penilaian lomba tersebut dilakukan dalam beberapa sesi. Sesi pertama, penilaian dalam kemampuan pengamatan burung dengan jumlah list burung sebagai paramater penilaiannya. Sesi kedua, penilaian dalam kemampuan bercerita tentang burung dan konservasi burung.</p>
<p style="text-align: justify;">Tim yang keluar sebagai juara dalam kegiatan tersebut adalah SMU Tulung Agung sebagai Juara I, SMP sebagai Juara 2, dan SMU Don Bosco sebagai Juara III. Untuk kategori mahasiswa Bionic UNY sebagai Juara I, Nycticorax sebagai Juara II dan KSSL UGM sebagai juara III.</p>
<p style="text-align: justify;">Usai berkompetisi para peserta disuguhi dengan pemandangan kota lama kota Semarang. Suasana yang semula kental dengan aroma kompetisi menjadi cair dengan keceriaan dan menjadi suasaa persahabatan yang sangat hangat. Bertempat di Taman Srigunting (depan Gereja Blenduk) masing-masing peserta menyampaikan pesan dan kesannya selama mengikuti kegiatan, ada beberapa organisasi yang menawarkan kegiatan yang akan dilangsungkan di tempatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan diakhiri dengan sesi foto-foto sebagai kenang-kenangan. Semoga kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan dalam kegiatan pengamatan burung atau konservasi burung lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam Lestari..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/11/liputan-semarang-birdrace-competition-2009/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rekam jejak SBC di Tabloid Simpang Lima</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/10/sbc-in-simpang-lima-magazinerekam-jejak-sbc-di-tabloid-simpang-lima/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/10/sbc-in-simpang-lima-magazinerekam-jejak-sbc-di-tabloid-simpang-lima/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 07:14:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[berita]]></category>

		<category><![CDATA[SBC]]></category>

		<category><![CDATA[Semarang Bird Community]]></category>

		<category><![CDATA[tabloid simpang lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Sepak terjang SBC ternyata cukup mencuri perhatian salah satu pewarta berita dari tabloid yang mengupas tuntas tentang kota Semarang. Tabloid tersebut adalah Tabloid Simpang Lima. Selain menjajakan liputan tentang kuliner kota Semarang yang menggiurkan, tabloid ini juga meliput tentang komunitas-komunitas yang bergerak aktif meningkatkan citra kota Semarang. Sejalan dengan slogan SBC membangun citra Semarang melalui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a target="_blank" href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/3921055849_17a9ae0b47_o.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-190" title="3921055849_17a9ae0b47_o" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/3921055849_17a9ae0b47_o.jpg" alt="3921055849_17a9ae0b47_o" width="125" height="175" /></a>Sepak terjang SBC ternyata cukup mencuri perhatian salah satu pewarta berita dari tabloid yang mengupas tuntas tentang kota Semarang. Tabloid tersebut adalah Tabloid Simpang Lima. Selain menjajakan liputan tentang kuliner kota Semarang yang menggiurkan, tabloid ini juga meliput tentang komunitas-komunitas yang bergerak aktif meningkatkan citra kota Semarang. Sejalan dengan slogan SBC membangun citra Semarang melalui Pelestarian burung di alam, maka tabloid ini sedikit mengupas tentang SBC. Sebagian rekam jejak yang ditorehkan SBC, tersaji dalam <a title="tabloid simpang lima" href="http://simpang5.wordpress.com/2009/09/10/semarang-bird-community-mencintai-dan-melestarikan-burung/"><strong>tabloid Simpang Lima online </strong></a> berikut.</p>
<p><span style="font-size: large;">Semarang Bird Community Mencintai dan Melestarikan Burung</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/bird-community.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-202" title="bird-community" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/bird-community.jpg" alt="bird-community" width="200" height="150" /></a>Semakin menyusutnya populasi burung, khususnya di Semarang dan sekitarnya menjadi keprihatinan tersendiri bagi sejumlah pecinta burung yang tergabung dalam Semarang Bird Community (SBC). Berdiri sejak 2006, SBC yang semula hanya mengamati burung, setahun terakhir berkembang dan intens pada upaya kelestarian berbagai spesies burung.</p>
<p style="text-align: justify;">SBC kini beranggotakan sekitar 60 orang yang terdiri dari para mahasiswa jurusan Biologi Undip, Unnes, dan masyarakat umum. Keanggotaan SBC memang  bersifat terbuka bagi siapa saja, tidak hanya warga Semarang, dan tidak ada batasan umur.<span id="more-189"></span></p>
<p style="text-align: justify;">SBC juga tidak hanya terbatas untuk kalangan akademisi atau organisasi intra kampus saja namun terbuka untuk organisasi luar kampus, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) bahkan individu-individu yang memiliki visi &amp; misi serta tujuan yang sama. Sejumlah organisasi yang menjadi roda penggerak SBC telah terbentuk. Di antaranya Pecinta Alam HALIASTER UNDIP; Himpunan Mahasiswa Biologi UNDIP; PELATUK BSC UNNES; Green Community UNNES; Pecinta Alam MAHAPALA UNNES, dan Pecinta Alam MATRAPALA Sastra UNDIP.</p>
<p style="text-align: justify;">Koordinator SBC Karyadi Baskoro mengatakan sejumlah aksi untuk pelestarian burung yang telah dilakukan di antaranya melakukan pendataan jenis burung yang ada di Semarang dan sekitarnya. “Hasil pendataan lalu kita susun listnya, statusnya seperti apa, dan kita buatkan web,” ujarnya. Kiprah para anggota SBC di antaranya dapat dilihat di web http://sbc.web.id/.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berharap hasil pendataan terhadap satwa burung yang dilakukan 2-3 tahun terakhir dapat menjadi pijakan untuk membuat kebijakan. Seperti menjadi acuan untuk pengembangan tata guna lahan dan pengelolaan lingkungan. Semua dilakukan secara non profit. Dosen biologi Undip tersebut mengatakan dari pendataan, didapati sekitar 200 spesies burung yang ada di Semarang, Ungaran, Kendal, dan Demak. Tahun ini hasil pendataan akan dipublikasikan. Data yang ada juga telah direview para peneliti dan kelompok pengamat lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendataan menunjukkan beberapa jenis burung memang populasinya masih cukup banyak seperti emprit, kutilang, dan tekukur. Namun beberapa jenis lainnya sudah sangat menyusut seperti jalak dan kepodang yang menjadi identitas Jawa Tengah. “Kami menjumpai hanya satu atau dua ekor. Padahal dulu jumlahnya banyak sekali,” ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyusutan populasi itu di antaranya disebabkan perubahan tata guna lahan seperti hutan yang dijadikan lahan pertanian, pemukiman, maupun industri, serta perburuan illegal. “Sebagian besar karena perburuan illegal. Ini penangkapan yang tidak memperhatikan kelestarian,” katanya.<br />
Selain pendataan, kegiatan lain anggota SBC adalah pengamatan. Secara rutin mereka melakukannya bersama-sama di berbagai wilayah di Semarang. “Kami cinta burung karena dari berbagai binatang liar paling mudah dijumpai baik di hutan, pesisir, hingga perkotaan. Penampakan burung juga indah,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Baskoro mengibaratkan komunitasnya seperti pecinta burung lainnya. Hanya saja anggota SBC lebih suka menikmati keindahan burung di habitat aslinya daripada memeliharanya di sangkar.<br />
Kegiatan lain untuk melestarikan burung juga dilakukan seperti memonitor jumlah burung, berkampanye di sekolah-sekolah, menggelar talkshow, dan mengadakan lomba gambar untuk anak-anak. SBC juga memfasilitasi kegiatan pengamatan burung nasional dan menjadi guide bagi pengamat burung asing.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Atas Jasa Baik : Tabloid Simpang Lima Online</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/10/sbc-in-simpang-lima-magazinerekam-jejak-sbc-di-tabloid-simpang-lima/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi Lerep - Indrokilo, Ungaran</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/08/lerep-indrokilo-ungaran-expeditionekspedisi-lerep-indrokilo-ungaran/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/08/lerep-indrokilo-ungaran-expeditionekspedisi-lerep-indrokilo-ungaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 09:09:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[burung]]></category>

		<category><![CDATA[haliaster]]></category>

		<category><![CDATA[lerep]]></category>

		<category><![CDATA[pengamatan]]></category>

		<category><![CDATA[SBC]]></category>

		<category><![CDATA[ungaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Lerep Ungaran, 5 Agustus 2009.
Lerep sebuah desa yang terletak di kaki G. Ungaran tepatnya di Kecamatan Ungaran Barat, kemarin Rabu 5 Agustus 2009 menjadi tempat tujuan kami untuk melakukan kegiatan pengamatan burung. Kami rombongan dari SBC yang beranggotakan Pak Bas dan Tomang, serta teman-t2man dari Haliaster Doni, Deni, Aulia, Arum, dan Roma berangkat dari Tembalang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lerep Ungaran, 5 Agustus 2009.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/pengamatan-burung-lerep.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-123" title="pengamatan-burung-lerep" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/pengamatan-burung-lerep.jpg" alt="pengamatan-burung-lerep" width="300" height="225" /></a>Lerep sebuah desa yang terletak di kaki G. Ungaran tepatnya di Kecamatan Ungaran Barat, kemarin Rabu 5 Agustus 2009 menjadi tempat tujuan kami untuk melakukan kegiatan pengamatan burung. Kami rombongan dari SBC yang beranggotakan Pak Bas dan Tomang, serta teman-t2man dari Haliaster Doni, Deni, Aulia, Arum, dan Roma berangkat dari Tembalang menuju tempat tujuan dengan mengendarai sepeda motor. Jalan yang kami lalui cukup asyik karena desa ini terletak di bukit yang cukup tinggi sehingga jalan berupa tanjakan dengan pemandangan kota Ungaran yang begitu indah. Sesampainya disana langsung kita siapkan peralatan dan kegiatan pengamatan siap berjalan.<span id="more-116"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jalur awal yang kami lalui berupa tanjakan dengan kemiringan yang cukup tinggi dan cukup membuat nafas terengah-engah. Setelah sampai di tepi aliran sungai berbagai jenis capung jarum yang berwarna-warni cukup menarik perhatian kami dan beberapa diantaranya kami tangkap untuk diidentifikasi. Cukup lama kami di aliran sungai kemudian perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalan seapak yang membelah kebun kopi. Ada beberapa jenis burung yang kami temui pada awal pengamatan di tempat ini yaitu Sepah Hutan dan Pelanduk Topi Hitam. Beberapa saat kemudian kami sedikit masuk ke dalam kebun kopi dan berdiam di tempat itu sampai pengamatan selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat pengamatan di kebun kopi kami menemukan Takur Tenggeret yang sedang bertengger di atas pohon. Selang beberapa saat gerombolan Kacamata Biasa datang bersama Burung Madu Sriganti yang sedang mencari nektar bunga. Burung Madu Ekor Merah juga beberapa kami temui di tempat ini. Selain itu, Burung Sepah Kecil, Bondol Jawa, Munguk Beledu, Gelatik Batu Kelabu, Tepekong Jambul, Walet Sapi, dan Cinenen Pisang juga beberapa kami temui. Teramati juga burung Elang Ular Bido di seberang bukit yang sedang sibuk mencari mangsa. Terdengar juga suara dari burung cekakak sungai dan cinenen kelabu yang sudah cukup familiar di telinga kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama kami mengamati, sekitar jam 1 siang kami akhiri perjalanan dan pengamatan kami. Saat perjalanan pulang ada satu hal yang membuat tempat ini cukup berbeda dengan tempat yang biasa kami amati. Seekor Serak Bukit tiba-tiba kami temukan berada di aliran air, kurang jelas apakah burung ini sedang mandi atau terjatuh ke dalam air. Namun, satu hal yang pasti ini merupakan pengalaman terbaik saat pengamatan karena burung ini jarang ditemui dengan jarak sedekat ini mengingat Serak Bukit merupakan burung yang pemalu dan merupakan burung hutan malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Foto oleh Bagus Dona Doni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/08/lerep-indrokilo-ungaran-expeditionekspedisi-lerep-indrokilo-ungaran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Si Malang Manyar</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/08/the-unfortune-ploceussi-malang-manyar/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/08/the-unfortune-ploceussi-malang-manyar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 08:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Spesies]]></category>

		<category><![CDATA[birdwatching]]></category>

		<category><![CDATA[burung]]></category>

		<category><![CDATA[manyar]]></category>

		<category><![CDATA[punah]]></category>

		<category><![CDATA[SBC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Burung Manyar. Sekilas burung ini mirip dengan burung Gereja (Burung Gereja Erasia-Passer montanus-). Atau bagi anda yang memiliki hobi memelihara burung tentu akan menyatakan lebih mirip dengan burung Kenari (Kenari Melayu-Serinus estherae-).
Di dunia terdapat sekitar 117 jenis burung manyar, 4 diantaranya terdapat di Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri terdapat 3 jenis burung Manyar. Ketiga jenis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a target="_blank" href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/burung-manyar-emas.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-113" title="burung-manyar-emas" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/burung-manyar-emas.jpg" alt="burung-manyar-emas" width="300" height="222" /></a>Burung Manyar. Sekilas burung ini mirip dengan <span style="color: #000000;"><a href="http://orientalbirdimages.org/search.php?action=searchresult&amp;Bird_ID=2101" target="_blank">burung Gereja (Burung Gereja Erasia-<em>Passer montanus</em>-)</a></span>. Atau bagi anda yang memiliki hobi memelihara burung tentu akan menyatakan lebih mirip dengan <a target="_blank" href="http://orientalbirdimages.org/search.php?p=1&amp;action=searchresult&amp;Bird_ID=1961&amp;Bird_Family_ID=&amp;pagesize=1" target="_blank">burung Kenari (Kenari Melayu-<em>Serinus estherae</em>-)</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia terdapat sekitar 117 jenis burung manyar, 4 diantaranya terdapat di Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri terdapat 3 jenis burung Manyar. Ketiga jenis burung manyar tersebut adalah <a target="_blank" href="http://orientalbirdimages.org/search.php?action=searchresult&amp;Bird_ID=2063" target="_blank">Manyar Tempua (<em>Ploceus philippinus</em>)</a>, <a target="_blank" href="http://orientalbirdimages.org/search.php?p=3&amp;action=searchresult&amp;Bird_ID=2064&amp;Bird_Family_ID=&amp;pagesize=1" target="_blank">Manyar Jambul (<em>Ploceus manyar</em>)</a> dan Manyar Emas (<em>Ploceus hypoxanthus</em>).<span id="more-114"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Karyadi Baskoro menuturkan pada era tahun 1980 hingga pertengahan tahun 1990 burung tersebut masih mudah di jumpai di dataran rendah dan padang rumput di Semarang. Hampir di setiap pelepah daun pohon kelapa bisa dijumpai sarang dari burung manyar. Namun kini menurut IUCN (International Union Conservation for Nature) Red List menyatakan salah satu jenis burung manyar ini dalam kategori terancam punah (NT-Near Threatened), yaitu jenis Burung Manyar Emas (<em>Ploceus hypoxanthus</em>), dan dua jenis yang lain yaitu Manyar Tempua dan Manyar Jambul masih sangat sedikit perhatian terhadapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Burung yang dulu dianggap sebagai hama pertanian, kini menjadi sangat sulit ditemui di alam. Beberapa ornitholog (orang yang melakukan studi burung) menyebutkan beberapa sebab mengapa burung tersebut sangat sulit dijumpai saat ini. Beberapa sebab itu adalah perburuan untuk  pemeliharaan (terutama jenis Burung Manyar Emas yang memiliki warna yang indah), perburuan untuk konsumsi (terutama telur dan daging), terjadi dominansi dari kelompok graminivora (pemakan biji) yang lain, serta penurunan tingkat keberhasilan hidup karena menurunnya lapisan cangkang telur terkait dengan penggunaan DDT atau korelasi di antara kesemuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Burung Manyar (ketiga jenisnya) masuk dalam Daftar Burung yang paling dicari oleh komunitas pengamat burung dan kelompok studi burung di Semarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Foto : <em>Ploceus hypoxanthus</em> Jasa baik Baluran National Park.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/08/the-unfortune-ploceussi-malang-manyar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Julang emas Icon Gunung Ungaran</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/08/julang-emas-ikon-gunung-ungaran/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/08/julang-emas-ikon-gunung-ungaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 07:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Spesies]]></category>

		<category><![CDATA[gunung Ungaran]]></category>

		<category><![CDATA[Julang emas]]></category>

		<category><![CDATA[Medini]]></category>

		<category><![CDATA[Peromasan]]></category>

		<category><![CDATA[Semarang]]></category>

		<category><![CDATA[spesies unik]]></category>

		<category><![CDATA[Wreathed Hornbill]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Julang emas yang memiliki nama latin Aceros undulatus ini merupakan iconnya gunung ungaran yang masih sering di jumpai di Gunung Ungaran Semarang.
Julang emas termasuk burung pemalu. Memiliki deskripsi antara lain berukuran besar (100cm). Baik jantan maupun betina memiliki punggung, sayap dan perut berwarna hitam. Jantan memiliki kepala krem, bulu halus kemerahan bergantung dari tengkuk, kantung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/julang_emas02.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-109" title="julang_emas02" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/julang_emas02-300x300.jpg" alt="julang_emas02" width="300" height="300" /></a>Julang emas yang memiliki nama latin <em>Aceros undulatus</em> ini merupakan iconnya gunung ungaran yang masih sering di jumpai di Gunung Ungaran Semarang.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Julang emas termasuk burung pemalu. Memiliki deskripsi antara lain berukuran besar (100cm). Baik jantan maupun betina memiliki punggung, sayap dan perut berwarna hitam. Jantan memiliki kepala krem, bulu halus kemerahan bergantung dari tengkuk, kantung leher kuning tidak berbulu dengan strip hitam khas. Sedangkan yang betina memiliki kepala dan leher hitam, serta kantung leher berwarna biru. Memiliki iris merah, paruh kuning dengan tanduk kecil kerenyut, kaki hitam. Suara julang emas sangat khas yaitu seperti salakan anjing ”ku-guk” yang di ulang-ulang pendek.<span id="more-108"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Burung ini memiliki penyebaran global yaitu di India Timur, Cina Barat Daya, Asia Tenggara , Semenanjung Asia, Malaysia, Kalimantan, Sumtera, Jawa dan Bali.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Julang emas memiliki kebiasaan terbang berpasangan atau dalam kelompok kecil di atas hutan, dengan kepakan sayap yang berat, apabila terbang rendah terdengar kepakan sayap ”wut…wut…wut…”.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Julang emas di Gunung Ungaran (Medini dan hutan Promasan) biasanya muncul saat matahari sudah mulai meninggi sekitar pukul 09.00 ke atas. Biasanya muncul dari arah hutan Watu Ondo menuju ke Gunung Gentong dan bila sore sekitar pukul 15.30 terlihat <em>Aceros undulatus </em>ini terbang kembali ke hutan Watu Ondo.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Jumlah individu dari spesies ini perkiraan optimis sekitar 6 individu dan perkiraan pesimis sekitar 8 individu dengan titik pengamatan Medini dan Hutan Peromasan (sumber data Ariesta n Yoga). Kemungkinan jumlah ini akan bertambah lagi, karena kami tidak melakukan pengamatan secara menyeluruh.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Salam lestari posted by</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Pelatuk bsc biologi UNNES yogert</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Foto : Jasa Baik Hasyim</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Sumber : pelatuk BSC UNNES</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/08/julang-emas-ikon-gunung-ungaran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengamatan Burung Usia Dini</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/08/pengamatan-burung-usia-dini/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/08/pengamatan-burung-usia-dini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 14:23:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[gunung pati]]></category>

		<category><![CDATA[kampung seni gebyok]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan lingkungan hidup]]></category>

		<category><![CDATA[pengamatan]]></category>

		<category><![CDATA[usia dini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[
Minggu, 12 Juli 2009. Rekan-rekan dari SBC (Semarang Bird Community) diberi kesempatan untuk berbagi ilmu mengenai Pengamatan Burung kepada anak-anak sekolah dasar yang ada di Kampung Seni Gebyok, Gunung Pati, Semarang.
Kegiatan ini merupakan salah satu upaya dari warga kampung Seni Gebyok dalam membangun citra Desa Gebyok sebagai kampung yang menghargai dan menghidupkan seni budaya serta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/pengamatn-patemon.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-148" title="pengamatn-patemon" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/pengamatn-patemon-300x225.jpg" alt="pengamatn-patemon" width="300" height="225" /></a>Minggu, 12 Juli 2009. Rekan-rekan dari SBC (Semarang Bird Community) diberi kesempatan untuk berbagi ilmu mengenai Pengamatan Burung kepada anak-anak sekolah dasar yang ada di Kampung Seni Gebyok, Gunung Pati, Semarang.</p>
<p>Kegiatan ini merupakan salah satu upaya dari warga kampung Seni Gebyok dalam membangun citra Desa Gebyok sebagai kampung yang menghargai dan menghidupkan seni budaya serta arif dalam melestarikan lingkungan.</p>
<p>Kegiatan diawali dengan perkenalan tentang SBC dan dilanjutkan dengan permainan <em>ice breaking</em>. Permainan ini sangat penting untuk mncairkan suasana yang semula kaku menjadi lebih hangat.</p>
<p>Setelah suasana cukup cair maka kami menjelaskan tentang pengamatan burung, apa manfaatnya, bagaiamana caranya dengan bahasa yang mudah dipahami dan menggelitik rasa ingin tahu mereka.<span id="more-103"></span></p>
<p>Peserta anak-anak sekolah dasar yang berjumlah sekitar 20 orang begitu penasaran dengan kegiatan pengamatan burung, terlebih setelah peralatan pengamatan burung disiapkan. Mereka begitu antusias menyambar semua peralatan yang ada.</p>
<p>Dengan didampingi oleh beberapa pendamping pengamatan mereka menuju lokasi pengamatan dimana burung mudah dijumpai dan mudah untuk diamati. Para pendamping mengajak mereka ke sawah yang ada di dekat desa Gebyok dan memberi arahan kepada para peserta untuk mulai mengamati dan mengidentifikasi jenis-jenis burung yang mereka amati.</p>
<p>Setelah kurang lebih 1 jam melakukan pengamatan, masing-masing dari peserta diminta untuk menjelaskan kepada teman-temannya jenis-jenis burung yang mereka lihat dan bagaimana karkteristiknya. Hal ini dilakukan untuk membiasakan mereka berani untuk tampil di depan banyak orang.</p>
<p>Acara kemudian dilanjutkan dengan permainan-permainan yang syarat akan pesan lingkungan hidup. Dalam setiap akhir permainan para peserta dijelaskan tentang inti atau pesan yang ingin disampaikan dari permainan tersebut.</p>
<p>Bagi SBC sendiri kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan tentang kegiatan pengamatan burung di Semarang, memberikan pendidikan lingkungan hidup sejak dini serta menapresiasi setiap aktivitas manusia yang ramah terhadap burung dan habitatnya.</p>
<p>Foto : Courtesy Doni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/08/pengamatan-burung-usia-dini/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengais Kearifan Manusia untuk Burung di Alam</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/04/mengais-kearifan-manusia-untuk-burung-di-alam/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/04/mengais-kearifan-manusia-untuk-burung-di-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 16:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[burung kicauan]]></category>

		<category><![CDATA[hobi]]></category>

		<category><![CDATA[konservasi]]></category>

		<category><![CDATA[lomba]]></category>

		<category><![CDATA[survey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Semarang, 12 April 2009.
BirdLife Indonesia (Burung Indonesia), Oxford University dan AC Nielsen baru-baru ini melakukan studi tentang Hobi Pemeliharaan Burung Kicauan di Indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan solusi yang terbaik antara hobi pemeliharaan burung dan konservasi burung di alam.
Seperti kita tahu burung telah menjadi sahabat manusia sejak dulu. Fungsi dan peran burung bagi manusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="size-full wp-image-86 alignleft" title="surveyhobi" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/surveyhobi.jpg" alt="surveyhobi" width="202" height="312" />Semarang, 12 April 2009.</p>
<p style="text-align: justify;">BirdLife Indonesia (Burung Indonesia), Oxford University dan AC Nielsen baru-baru ini melakukan studi tentang Hobi Pemeliharaan Burung Kicauan di Indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan solusi yang terbaik antara hobi pemeliharaan burung dan konservasi burung di alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti kita tahu burung telah menjadi sahabat manusia sejak dulu. Fungsi dan peran burung bagi manusia turut berevolusi bersama dengan laju modernisasi manusia. Ada banyak manfaat burung bagi manusia beberapa di antaranya adalah sebagai sumber makanan, sebagai materi spiritual, materi adat istiadat, dan sebagai hewan peliharaan.<span id="more-83"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Fungsi burung sebagai hewan peliharaan telah berlangsung puluhan tahun yang lalu. Bagi masyarakat Jawa. Burung merupakan salah satu obyek pelengkap kesempurnaan hidup. Dalam falsafah Jawa, burung merupakan salah satu unsur harmoni dan simbol kemapanan. Burung (kukilo), adalah kelengkapan hidup selain curigo (keris), turonggo (kuda,) wismo (rumah), dan wanito (istri). (www.kompas.co.id)</p>
<p style="text-align: justify;">Hobi memelihara burung telah mengakar dan sangat sulit untuk dihalangi. Dilihat dari sudut pandang ekonomi, perputaran uang dari hobi pemeliharaan burung kicauan juga sangat besar. Mulai dari sangkar, pakan, perlengkapan sangkar, vitamin dan biaya kesehatan, joki lomba, pengasuh hingga orang yang berperan sebagai biro jodoh burung peliharaan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, semakin tinggi permintaan pasar terhadap burung kicauan mengakibatkan terjadinya penurunan populasi burung tersebut di alam. Bahkan ada beberapa jenis burung yang kini sudah hampir tidak dapat ditemui lagi di alam seperti Cucak Rowo (<em>Pycnonotus zeylanicus</em>). Beberapa jenis lain seperti Anis Merah (<em>Zoothera citrina</em>), Anis Kembang (<em>Zoothera interpres</em>), Murai Batu/Kucica Hutan (<em>Copsychus malabaricus</em>) sudah sangat sulit dijumpai di habitat aslinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mendapatkan solusi dari kedua kepentingan ini (kepentingan hobi dan konservasi) maka perlu dilakukan penelitian lebih jauh tentang aspek-aspek terkait dengan hobi pemeliharaan burung kicauan.</p>
<p style="text-align: justify;">SBC sebenarnya bukan kali pertama mendapatkan kepercayaan untuk melakukan survey seperti ini. Di tahun 2006, SBC mendapatkan kepercayaan dari BirdLife Indonesia untuk melakukan survey hobi pemeliharaan burung kicauan untuk skala rumah tangga. Saat ini SBC mendapatkan kepercayaan serupa untuk melakukan survey pada Lomba Kicau Burung &#8220;Gebyar Semarang&#8221; di GOR Jatidiri Semarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari survey tersebut juga diharapkan para penghobi burung kicauan dapat merubah pola pikir dan pola perilakunya untuk hanya memelihara burung kicauan yang berasal dari penangkaran. Burung yang berasal dari penangkaran memiliki sertifikat dan memiliki cincin (ring) sebagai tanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan perubahan perilaku penghobi burung kicauan tersebut maka hobi memelihara burung kicauan dapat terus berlanjut namun tanpa mengganggu populasi burung di habitat aslinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/04/mengais-kearifan-manusia-untuk-burung-di-alam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penggaron Birding Trip</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/02/penggaron-birdtour/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/02/penggaron-birdtour/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 10:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[birdtour]]></category>

		<category><![CDATA[Penggaron]]></category>

		<category><![CDATA[SBC]]></category>

		<category><![CDATA[Semarang]]></category>

		<category><![CDATA[wanawisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Penggaron, 27 Januari 2009
Sebulan sebelumnya kami mendapatkan kabar dari salah seorang rekan sesama pengamat burung asal Yogyakarta. Namanya Mas Wawan dari KIBC Yogyakarta. Beliau mendaulat kami untuk mendampingi beberapa wisatawan yang ingin melakukan birdtour di Semarang. Tiga wisatawan tersebut adalah Mr Ian Frasen asal Australia, Mr. Nakamura dan Mrs. Tatsumoko yang keduanya berasal dari Jepang.
Mr. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/penggaron-birdtour2.jpg"><img class="size-medium wp-image-38 alignleft" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/penggaron-birdtour2-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Penggaron, 27 Januari 2009</p>
<p style="text-align: justify;">Sebulan sebelumnya kami mendapatkan kabar dari salah seorang rekan sesama pengamat burung asal Yogyakarta. Namanya Mas Wawan dari KIBC Yogyakarta. Beliau mendaulat kami untuk mendampingi beberapa wisatawan yang ingin melakukan birdtour di Semarang. Tiga wisatawan tersebut adalah Mr Ian Frasen asal Australia, Mr. Nakamura dan Mrs. Tatsumoko yang keduanya berasal dari Jepang.</p>
<p>Mr. Ian Frasen kebetulan ada seminar di Semarang dan mengajak rekan Mrs. Tatsumoko dan seorang rekan Mrs. Tatsumoko yaitu Mr. Nakamura untuk birdwatching. Kami diminta menentukan lokasi yang paling bagus untuk melakukan pengamatan.<span id="more-39"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Wanawisata Penggaron kami tunjuk sebagai lokasi pengamatan yang cukup bagus. Selain lokasinya yang sangat dekat dengan kota, Wanawisata Penggaron juga memiliki koleksi hidupan liar terutama burung yang cukup banyak dan menarik. SBC mencatat setidaknya 97 spesies yang terdapat dalam wanawisata tersebut. Dengan beberapa spesies yang menarik seperti Merak Hijau, Elang Ular Bido, Kadalan Birah, Kadalan Kembang dan beberapa raptor migran.<a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/p1270348-editjpg.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-41" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/p1270348-editjpg-224x300.jpg" alt="" width="192" height="257" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kami berangkat dari basecamp sekitar pukul 04.30, dan bertemu dengan wisatawan tersebut pukul 05.00 di pintu masuk Wanawisata Penggaron. Setelah sejenak bercakap-cakap dan melakukan perkenalan kami meluncur ke titik pengamatan yaitu bumi perkemahan (BumPer). Biasanya di titik tersebut kami menemukan Kadalan Birah dan Kadalan Kembang. Saat kami menuju titik pengamatan kami dihadang 2 ekor Paok Pancawarna yang sedang bermain-main di tengah jalan, namun sayang berhubung ketiga wisatawan tersebut menggunakan mobil sehingga tidak melihat keberadaan sepasang burung tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di bumper kami segera mempersiapkan peralatan, dan segera meluncur ke daerah terbuka sekitar lapangan golf. Di titik pengamatan yang kedua kami berharap berjumpa dengan Merak Hijau. Biasanya kalau sehari sebelumnya hujan, burung ini sering berjemur di sekitar padang ilalang untuk mengeringkan bulu-bulunya. Namun sayang burung nun cantik ini enggan menunjukkan keindahannya. Kadalan Birah dan Kadalan Kembang yang biasa bermain di pohon-pohon sekitar bumper juga enggan menunjukkan paras cantiknya.</p>
<p><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/p1270350.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-40 alignleft" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/p1270350.jpg" alt="" width="275" height="213" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Di udara melintas burung Elang Ular Bido dengan teriakan khasnya, lalu bertengger di salah satu pohon besar. Selain itu juga kami berjumpa dengan Tiong Lampu, Sikep Madu Asia, Cekakak Jawa, Srigunting Hitam, Tekukur Biasa, Walet Linchi, Sepah Kecil, Bondol Peking, Bubut Alang-alang, Delimukan Jamrud, Prenjak Coklat, Falco sp., Layang-layang Api, Cipoh Kacat, Kehicap Ranting, Cekakak Sungai, Tangkar Centrong dan Cuca Kutilang. Dari kejauhan juga terdengar suara Ayam Hutan Hijau.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah cukup puas mengamati burung di padang ilalang kami kembali ke bumper. Di sana kami bertemu dengan seekor Elang yang meluncur rendah diantara pohon pinus. Karena tak terduga dan begitu cepa melesat kami tidak mampu mengidentifikasinya. Kemungkinan besar adalah Elang Hitam atau Elang Ular Bido. Di atas pohon pinus melintas seekor Elang-alap Cina dengan warna bagian bawah sayapnya yang khas, putih dengan warna hitam di bagian ujungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa cukup pengamatan kali ini kami sekedar memberi informasi tentang burung-burung dan lokasi pengamatan yang ada di Semarang serta profil komunitas kami. Saat terakhir perjumpaan kami dengan Mr Ian dan rekan, beliau menyatakan cukup puas dengan lokasi pengamatannya. &#8220;Lokasinya sangat dekat dengan kota, mudah dijangkau, burung-burung raptornya cukup banyak untuk ukuran hutan kota&#8221;, beliau berpendapat. Kami senang karena pengalaman pertama kami mendampingi Birdtour mendapatkan respon positif dari mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/02/penggaron-birdtour/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>AWC dan SBW di Sayung, Demak</title>
		<link>http://sbc.web.id/2009/02/awc-dan-sbw-di-sayung-demak/</link>
		<comments>http://sbc.web.id/2009/02/awc-dan-sbw-di-sayung-demak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 14:55:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[AWC]]></category>

		<category><![CDATA[burung air]]></category>

		<category><![CDATA[Demak]]></category>

		<category><![CDATA[Sayung]]></category>

		<category><![CDATA[SBW]]></category>

		<category><![CDATA[Semarang Bird Walk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[
Sayung, Demak 17 Januari 2009.
Pesisir Pantai Utara Semarang memiliki karakteristik bergelombang rendah dan berpasir lumpur sehingga memiliki potensi pakan bagi burung-burung air dan burung pantai. Demikian juga dengan daerah Sayung, Demak. Daerah ini merupakan daerah singgah bagi burung pantai migran dan juga merupakan &#8220;feeding ground&#8221; (sumber makanan) bagi burung-burung penetap yang ada di pesisir pantai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p style="text-align: justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/tambaksari_03.jpg"><img class="size-medium wp-image-34 alignleft" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/tambaksari_03-300x206.jpg" alt="" width="300" height="206" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sayung, Demak 17 Januari 2009.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesisir Pantai Utara Semarang memiliki karakteristik bergelombang rendah dan berpasir lumpur sehingga memiliki potensi pakan bagi burung-burung air dan burung pantai. Demikian juga dengan daerah Sayung, Demak. Daerah ini merupakan daerah singgah bagi burung pantai migran dan juga merupakan<em> &#8220;feeding ground&#8221;</em> (sumber makanan) bagi burung-burung penetap yang ada di pesisir pantai utara.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 17 Januari yang lalu, Semarang Bird Community (SBC) melakukan pengamatan di daerah tersebut. Bersama dengan rekan Pecinta Alam Matrapala dan Mapateksi UNDIP, kami melakukan pemantauan di daerah Sayung, Demak.</p>
<p style="text-align: justify;">Lokasi pengamatan secara administratif termasuk dalam Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Secara geografis lokasi penelitian berada pada posisi 6º55’44” LS dan 110º29’42” BT.<a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/sayung01.jpg"><span id="more-33"></span></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/sayung01.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-35" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/sayung01-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/sayung02.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-36" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/sayung02-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">(Foto Udara Lokasi Pengamatan Sayung, Demak)</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan ini sebenarnya adalah salah satu dari rangkaian kegiatan yang berjuluk Semarang Bird Walk 2009 (SBW 2009). Berhubung waktunya bertepatan dengan kegiatan AWC (Asian Waterbird Censuss) yang diselenggarakan Wetland Indonesia maka kegiatan tersebut dilaksanakan secara bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di lokasi sekitar pukul 08.15, kamipun segera bergegas mempersiapkan peralatan yang kami bawa. Monokuler, Tripod, Binokuler, Buku Panduan, Kamera, Buku Catatan kami siapkan. Sebelum menjelajahi lokasi pengamatan kami sempat berbincang-bincang dengan warga setempat untuk sekedar mencari informasi tentang pasang surut serta keadaan lokasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sedikit berbincang, kamipun meluncur ke lokasi pengamatan. Pertama-tama kami harus melintasi jembatan yang terbuat dari batang bambu. Angin yang kencang terus menghempas tubuh kami. Setibanya diseberang kami memulai pengamatan. Arah monokular kami tujukan ke arah gundukan lumpur serta tegalan-tegalan yang diduga banyak kawanan burung. Kami mulai menyisir tiap tegalan, mngidentifikasi tiap burung yang kami temui, serta menghitung kawanan burung yang melintas dan tertangkap mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu setengah jam kami habiskan untuk menyisiri tiap gundukan lumpur tersebut. Kemudian perjalanan menjadi sangat menantang. Di depan kami lumpur sedalam paha orang dewasa menghadang. Jurus meringankan tubuhpun harus digunakan jika tidak ingin terjebak dalam lumpur lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, kami harus meniti dua bilah bambu yang dipasang sebagai jembatan untuk menghindari lumpur yang lebih dalam. Meniti di atas bambu ini harus penuh konsentrasi. Bilah bambu yang dipasang setinggi 1 meter dari atas tanah, ditambah dengan terpaan angin pantai sangat mengganggu keseimbangan kami, jadi untuk sementara pengamatan tidak dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melewati jembatan bambu sepanjang 300 meter kami masuk ke hutan mangrove yang penuh dengan burung Kuntul Kerbau, Kuntul Kecil, Kuntul Besar. Riuh sekali suara yang mereka timbulkan karena kedatangan kami. Bau kotoran yang menyengat hidung kami membuat kami harus segera menuju ke pesisir pantai, mengidentifikasi kawanan burung yang berada di gosong-gosong pasir.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengamatan kami lanjutkan dengan menyisir daerah seberang yang kebetulan juga ditumbuhi dengan mangrove. Dengan menggunakan monokuler kami menghitung burung yang ada di manrove tersebut. Kawanan Kowak Malam Kelabu dan Kowak Malam Merah berhamburan karena diserang oleh seekor falco. Jarak yang cukup jauh sangat sulit mengidentifikasi jenis Falco tersebut. Warnanya gelap dan kami yakin itu Falco dari bentuk sayap yang meruncing.</p>
<p style="text-align: justify;">Kawanan Cerek Jawa hilir mudik berlarian di atas gosong pasir. Sesekali mereka mendapatkan mangsa. Gerombolan Kuntul Kecil dan Kuntul Kerbau yang tidak pernah berhenti terbang memenuhi jalur terbang yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Matahari semakin terik dan airpun mulai pasang kamipun menghentikan pengamatan. Saat itu jam menunjukkan pukul 12.30. Kami harus menghadapi rintangan yang sama dengan saat kami berangkat. Kemudian sesampai di tempat kami menitipkan sepeda motor kami, kami mulai bersih-bersih. Setelah bersih-bersih kami melakukan koordinasi data spesies dan jumlah yang kami temui.</p>
<table style="text-align: justify;" border="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Nama Spesies</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Nama Ilmiah</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Jumlah</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Trinil Pantai</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Actitis hypoleucos</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">4</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kuntul Kecil</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Egretta garzetta</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">&gt;100</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kuntul Kerbau</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Bubulcus ibis</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">&gt;100</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kuntul Besar</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Egretta alba</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kipasan Belang</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Rhipidura javanica</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">3</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cerek Kernyut</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Pluvialis fulva</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">1</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Remetuk Laut</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Gerygone sulphurea</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">5</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cangak Merah</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Ardea purpurea</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">6</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cerek Jawa</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Charadrius javanicus</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">6</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Trinil Kaki Hijau</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Tringa nebularia</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">14</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Blekok Sawah</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Ardeola speciosa</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Gajahan Pengala</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Numenius phaeopus</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">4</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kokokan Laut</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Butorides striatus</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cekakak Sungai </span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Todirhampus chloris</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">1</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kowak Malam Kelabu</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Nycticorax nycticorax</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kowak Malam Merah</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Nycticorax caledonicus</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Unident. Falco</span></td>
<td width="20%"></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cangak Abu</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Ardea cinerea</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kuntul Karang</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Egretta sacra</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">1</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"></td>
<td width="20%"></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/2009/02/awc-dan-sbw-di-sayung-demak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
