<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Semarang Bird Community</title>
	<atom:link href="http://sbc.web.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sbc.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Feb 2009 07:55:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Penggaron Birding Trip</title>
		<link>http://sbc.web.id/archives/39</link>
		<comments>http://sbc.web.id/archives/39#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 10:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Birdtour]]></category>
		<category><![CDATA[Penggaron]]></category>
		<category><![CDATA[SBC]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Wanawisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Penggaron, 27 Januari 2009 Sebulan sebelumnya kami mendapatkan kabar dari salah seorang rekan sesama pengamat burung asal Yogyakarta. Namanya Mas Wawan dari KIBC Yogyakarta. Beliau mendaulat kami untuk mendampingi beberapa wisatawan yang ingin melakukan birdtour di Semarang. Tiga wisatawan tersebut adalah Mr Ian Frasen asal Australia, Mr. Nakamura dan Mrs. Tatsumoko yang keduanya berasal dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="justify;">Penggaron, 27 Januari 2009</p>
<p style="center;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/penggaron-birdtour2.jpg" ><img class="alignnone size-medium wp-image-38" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/penggaron-birdtour2-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p style="justify;">Sebulan sebelumnya kami mendapatkan kabar dari salah seorang rekan sesama pengamat burung asal Yogyakarta. Namanya Mas Wawan dari KIBC Yogyakarta. Beliau mendaulat kami untuk mendampingi beberapa wisatawan yang ingin melakukan birdtour di Semarang. Tiga wisatawan tersebut adalah Mr Ian Frasen asal Australia, Mr. Nakamura dan Mrs. Tatsumoko yang keduanya berasal dari Jepang.</p>
<p style="justify;">Mr. Ian Frasen kebetulan ada seminar di Semarang dan mengajak rekan Mrs. Tatsumoko dan seorang rekan Mrs. Tatsumoko yaitu Mr. Nakamura untuk birdwatching. Kami diminta menentukan lokasi yang paling bagus untuk melakukan pengamatan.<span id="more-39"></span></p>
<p style="justify;">Wanawisata Penggaron kami tunjuk sebagai lokasi pengamatan yang cukup bagus. Selain lokasinya yang sangat dekat dengan kota, Wanawisata Penggaron juga memiliki koleksi hidupan liar terutama burung yang cukup banyak dan menarik. SBC mencatat setidaknya 97 spesies yang terdapat dalam wanawisata tersebut. Dengan beberapa spesies yang menarik seperti Merak Hijau, Elang Ular Bido, Kadalan Birah, Kadalan Kembang dan beberapa raptor migran.<a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/p1270348-editjpg.jpg" ><img class="alignright size-medium wp-image-41" style="right;" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/p1270348-editjpg-224x300.jpg" alt="" width="192" height="257" /></a></p>
<p style="justify;">Kami berangkat dari basecamp sekitar pukul 04.30, dan bertemu dengan wisatawan tersebut pukul 05.00 di pintu masuk Wanawisata Penggaron. Setelah sejenak bercakap-cakap dan melakukan perkenalan kami meluncur ke titik pengamatan yaitu bumi perkemahan (BumPer). Biasanya di titik tersebut kami menemukan Kadalan Birah dan Kadalan Kembang. Saat kami menuju titik pengamatan kami dihadang 2 ekor Paok Pancawarna yang sedang bermain-main di tengah jalan, namun sayang berhubung ketiga wisatawan tersebut menggunakan mobil sehingga tidak melihat keberadaan sepasang burung tersebut.</p>
<p style="justify;">Sesampai di bumper kami segera mempersiapkan peralatan, dan segera meluncur ke daerah terbuka sekitar lapangan golf. Di titik pengamatan yang kedua kami berharap berjumpa dengan Merak Hijau. Biasanya kalau sehari sebelumnya hujan, burung ini sering berjemur di sekitar padang ilalang untuk mengeringkan bulu-bulunya. Namun sayang burung nun cantik ini enggan menunjukkan keindahannya. Kadalan Birah dan Kadalan Kembang yang biasa bermain di pohon-pohon sekitar bumper juga enggan menunjukkan paras cantiknya.</p>
<p style="justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/p1270350.jpg" ><img class="alignnone size-medium wp-image-40 alignleft" style="left;" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/p1270350.jpg" alt="" width="275" height="213" /></a></p>
<p style="justify;">Di udara melintas burung Elang Ular Bido dengan teriakan khasnya, lalu bertengger di salah satu pohon besar. Selain itu juga kami berjumpa dengan Tiong Lampu, Sikep Madu Asia, Cekakak Jawa, Srigunting Hitam, Tekukur Biasa, Walet Linchi, Sepah Kecil, Bondol Peking, Bubut Alang-alang, Delimukan Jamrud, Prenjak Coklat, Falco sp., Layang-layang Api, Cipoh Kacat, Kehicap Ranting, Cekakak Sungai, Tangkar Centrong dan Cuca Kutilang. Dari kejauhan juga terdengar suara Ayam Hutan Hijau.</p>
<p style="justify;">Setelah cukup puas mengamati burung di padang ilalang kami kembali ke bumper. Di sana kami bertemu dengan seekor Elang yang meluncur rendah diantara pohon pinus. Karena tak terduga dan begitu cepa melesat kami tidak mampu mengidentifikasinya. Kemungkinan besar adalah Elang Hitam atau Elang Ular Bido. Di atas pohon pinus melintas seekor Elang-alap Cina dengan warna bagian bawah sayapnya yang khas, putih dengan warna hitam di bagian ujungnya.</p>
<p style="justify;">Merasa cukup pengamatan kali ini kami sekedar memberi informasi tentang burung-burung dan lokasi pengamatan yang ada di Semarang serta profil komunitas kami. Saat terakhir perjumpaan kami dengan Mr Ian dan rekan, beliau menyatakan cukup puas dengan lokasi pengamatannya. &#8220;Lokasinya sangat dekat dengan kota, mudah dijangkau, burung-burung raptornya cukup banyak untuk ukuran hutan kota&#8221;, beliau berpendapat. Kami senang karena pengalaman pertama kami mendampingi Birdtour mendapatkan respon positif dari mereka.</p>
<p style="justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/archives/39/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AWC dan SBW di Sayung, Demak</title>
		<link>http://sbc.web.id/archives/33</link>
		<comments>http://sbc.web.id/archives/33#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 14:55:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[AWC]]></category>
		<category><![CDATA[Demak]]></category>
		<category><![CDATA[Sayung]]></category>
		<category><![CDATA[SBW]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang Bird Walk]]></category>
		<category><![CDATA[Waterbird]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Sayung, Demak 17 Januari 2009. (Semarang Bird Walk 2009 &#38; AWC di Sayung Demak) Pesisir Pantai Utara Semarang memiliki karakteristik bergelombang rendah dan berpasir lumpur sehingga memiliki potensi pakan bagi burung-burung air dan burung pantai. Demikian juga dengan daerah Sayung, Demak. Daerah ini merupakan daerah singgah bagi burung pantai migran dan juga merupakan &#8220;feeding ground&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sayung, Demak 17 Januari 2009.</p>
<p style="center;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/tambaksari_03.jpg" ><img class="aligncenter size-medium wp-image-34" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/tambaksari_03-300x206.jpg" alt="" width="300" height="206" /></a></p>
<p style="center;">(Semarang Bird Walk 2009 &amp; AWC di Sayung Demak)</p>
<p>Pesisir Pantai Utara Semarang memiliki karakteristik bergelombang rendah dan berpasir lumpur sehingga memiliki potensi pakan bagi burung-burung air dan burung pantai. Demikian juga dengan daerah Sayung, Demak. Daerah ini merupakan daerah singgah bagi burung pantai migran dan juga merupakan<em> &#8220;feeding ground&#8221;</em> (sumber makanan) bagi burung-burung penetap yang ada di pesisir pantai utara.</p>
<p>Tanggal 17 Januari yang lalu, Semarang Bird Community (SBC) melakukan pengamatan di daerah tersebut. Bersama dengan rekan Pecinta Alam Matrapala dan Mapateksi UNDIP, kami melakukan pemantauan di daerah Sayung, Demak.</p>
<p>Lokasi pengamatan secara administratif termasuk dalam Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Secara geografis lokasi penelitian berada pada posisi 6º55’44” LS dan 110º29’42” BT.</p>
<p style="center;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/sayung01.jpg" ><img class="alignnone size-medium wp-image-35" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/sayung01-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/sayung02.jpg" ><img class="alignnone size-medium wp-image-36" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/sayung02-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="center;">(Foto Udara Lokasi Pengamatan Sayung, Demak)<span id="more-33"></span></p>
<p>Kegiatan ini sebenarnya adalah salah satu dari rangkaian kegiatan yang berjuluk Semarang Bird Walk 2009 (SBW 2009). Berhubung waktunya bertepatan dengan kegiatan AWC (Asian Waterbird Censuss) yang diselenggarakan Wetland Indonesia maka kegiatan tersebut dilaksanakan secara bersamaan.</p>
<p>Tiba di lokasi sekitar pukul 08.15, kamipun segera bergegas mempersiapkan peralatan yang kami bawa. Monokuler, Tripod, Binokuler, Buku Panduan, Kamera, Buku Catatan kami siapkan. Sebelum menjelajahi lokasi pengamatan kami sempat berbincang-bincang dengan warga setempat untuk sekedar mencari informasi tentang pasang surut serta keadaan lokasi.</p>
<p>Setelah sedikit berbincang, kamipun meluncur ke lokasi pengamatan. Pertama-tama kami harus melintasi jembatan yang terbuat dari batang bambu. Angin yang kencang terus menghempas tubuh kami. Setibanya diseberang kami memulai pengamatan. Arah monokular kami tujukan ke arah gundukan lumpur serta tegalan-tegalan yang diduga banyak kawanan burung. Kami mulai menyisir tiap tegalan, mngidentifikasi tiap burung yang kami temui, serta menghitung kawanan burung yang melintas dan tertangkap mata.</p>
<p>Satu setengah jam kami habiskan untuk menyisiri tiap gundukan lumpur tersebut. Kemudian perjalanan menjadi sangat menantang. Di depan kami lumpur sedalam paha orang dewasa menghadang. Jurus meringankan tubuhpun harus digunakan jika tidak ingin terjebak dalam lumpur lebih dalam.</p>
<p>Selanjutnya, kami harus meniti dua bilah bambu yang dipasang sebagai jembatan untuk menghindari lumpur yang lebih dalam. Meniti di atas bambu ini harus penuh konsentrasi. Bilah bambu yang dipasang setinggi 1 meter dari atas tanah, ditambah dengan terpaan angin pantai sangat mengganggu keseimbangan kami, jadi untuk sementara pengamatan tidak dilakukan.</p>
<p>Setelah melewati jembatan bambu sepanjang 300 meter kami masuk ke hutan mangrove yang penuh dengan burung Kuntul Kerbau, Kuntul Kecil, Kuntul Besar. Riuh sekali suara yang mereka timbulkan karena kedatangan kami. Bau kotoran yang menyengat hidung kami membuat kami harus segera menuju ke pesisir pantai, mengidentifikasi kawanan burung yang berada di gosong-gosong pasir.</p>
<p>Pengamatan kami lanjutkan dengan menyisir daerah seberang yang kebetulan juga ditumbuhi dengan mangrove. Dengan menggunakan monokuler kami menghitung burung yang ada di manrove tersebut. Kawanan Kowak Malam Kelabu dan Kowak Malam Merah berhamburan karena diserang oleh seekor falco. Jarak yang cukup jauh sangat sulit mengidentifikasi jenis Falco tersebut. Warnanya gelap dan kami yakin itu Falco dari bentuk sayap yang meruncing.</p>
<p>Kawanan Cerek Jawa hilir mudik berlarian di atas gosong pasir. Sesekali mereka mendapatkan mangsa. Gerombolan Kuntul Kecil dan Kuntul Kerbau yang tidak pernah berhenti terbang memenuhi jalur terbang yang ada.</p>
<p>Matahari semakin terik dan airpun mulai pasang kamipun menghentikan pengamatan. Saat itu jam menunjukkan pukul 12.30. Kami harus menghadapi rintangan yang sama dengan saat kami berangkat. Kemudian sesampai di tempat kami menitipkan sepeda motor kami, kami mulai bersih-bersih. Setelah bersih-bersih kami melakukan koordinasi data spesies dan jumlah yang kami temui.</p>
<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Nama Spesies</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Nama Ilmiah</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Jumlah</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Trinil Pantai</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Actitis hypoleucos</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">4</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kuntul Kecil</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Egretta garzetta</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">&gt;100</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kuntul Kerbau</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Bubulcus ibis</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">&gt;100</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kuntul Besar</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Egretta alba</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kipasan Belang</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Rhipidura javanica</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">3</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cerek Kernyut</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Pluvialis fulva</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">1</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Remetuk Laut</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Gerygone sulphurea</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">5</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cangak Merah</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Ardea purpurea</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">6</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cerek Jawa</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Charadrius javanicus</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">6</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Trinil Kaki Hijau</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Tringa nebularia</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">14</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Blekok Sawah</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Ardeola speciosa</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Gajahan Pengala</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Numenius phaeopus</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">4</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kokokan Laut</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Butorides striatus</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cekakak Sungai </span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Todirhampus chloris</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">1</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kowak Malam Kelabu</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Nycticorax nycticorax</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kowak Malam Merah</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Nycticorax caledonicus</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Unident. Falco</span></td>
<td width="20%"></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Cangak Abu</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Ardea cinerea</span></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"><span style="Arial;">Kuntul Karang</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">Egretta sacra</span></td>
<td width="20%"><span style="Arial;">1</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="20%"></td>
<td width="20%"></td>
<td width="20%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/archives/33/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Birdwatching at Jerakah Wetland</title>
		<link>http://sbc.web.id/archives/24</link>
		<comments>http://sbc.web.id/archives/24#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 12:40:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Birdwatching]]></category>
		<category><![CDATA[Jerakah]]></category>
		<category><![CDATA[SBC]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Waterbird]]></category>
		<category><![CDATA[Wetland]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Jerakah, Kamis 18 Desember 2008 Datang tepat waktu, berangkat-pun tepat waktu. Pengamatan hari ini diawali dengan “hawa” yang cukup menyenangkan, karena tak seperti biasa, hari ini kami bisa berangkat tepat waktu. Jam 07.00 WIB, kami segera menuju lokasi pengamatan yang sudah direncanakan. Stasiun Jerakah, Tugu, Semarang menjadi titik awal pengamatan kami. Di sekitar daerah ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="justify;">Jerakah, Kamis 18 Desember 2008</p>
<p style="justify;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/persiapan-pengamatan.jpg" ><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-25 alignleft" style="left;" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/persiapan-pengamatan.jpg" alt="" width="168" height="225" /></a></p>
<p style="justify;">Datang tepat waktu, berangkat-pun tepat waktu. Pengamatan hari ini diawali dengan “hawa” yang cukup menyenangkan, karena tak seperti biasa, hari ini kami bisa berangkat tepat waktu. Jam 07.00 WIB, kami segera menuju lokasi pengamatan yang sudah direncanakan. Stasiun Jerakah, Tugu, Semarang menjadi titik awal pengamatan kami. Di sekitar daerah ini terdapat beberapa tambak, lahan persawahan, serta lahan bekas tambak yang sekarang ditumbuhi banyak rumput liar. Lokasi ini merupakan habitat beberapa jenis burung liar. Awal pengamatan, di kabel listrik beberapa burung <strong>Gereja erasia (<em>Passer montanus</em>)</strong> bertengger dan terbang di sekitar tempat itu. Kelompok burung Estrildidae, yaitu <strong>Bondol peking (<em>Lonchura punctulata</em>)</strong>, <strong>Bondol jawa (<em>L leucogastroides</em>)</strong>, serta <strong>Bondol haji (<em>L. maja</em>)</strong> cukup banyak terdapat di sana.<span id="more-24"></span></p>
<p style="justify;">Jalan setapak di antara tambak yang becek, agak menghambat kami. Akan tetapi, hal itu tak ada artinya setelah kami mlihat seekor burung raptor (pemangsa). <strong><em>Haliastur indus</em></strong> atau <strong>Elang bondol</strong>. Meski tak sempat menggunakan teropong binoculer, terlihat jelas warna bulu kepalanya yang putih hingga bawah leher, kemudian sayapnya yang membentang lebar berwarna cokelat terang dengan warna hitam di bagian atasnya. Tak lama burung itu berada di sana, setelah berhasil mencengkeram mangsa, burung itupun segera meninggalkan tempat itu.</p>
<p style="justify;">Terlihat burung air yang jumlahnya cukup banyak di sana, antara lain burung <strong>Kuntul besar (<em>Egretta alba</em>)</strong>, <strong>Kuntul kecil (<em>Egretta garzetta</em>)</strong>, <strong>Blekok sawah (<em>Ardeola speciosa</em>)</strong>, <strong>Cangak merah (<em>Ardea purpurea</em>)</strong>, <strong>Cangak kelabu (<em>Ardea cinerea</em>)</strong>, serta <strong>Kokokan laut (<em>Butorides striatus</em>)</strong>. Selain itu, ada beberapa individu burung <strong>Bambangan merah (<em>Ixobrychus cinnamomeus</em>)</strong>, <strong>Raja udang biru (<em>Alcedo coerulescens</em>)</strong>, Trinil pantai <strong>(<em>Tringa hypoleucos</em>)</strong>.</p>
<p style="center;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/cangak_merah01.jpg" ><img class="aligncenter size-medium wp-image-42" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/cangak_merah01-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p style="center;">Foto. Cangak Merah<span style="x-small;"> </span><span style="x-small;"><em>(Ardea pupurea<em>)</em></em></span></p>
<p style="justify;">Sepasang burung <strong>Belibis batu (<em>Dendrocygna javanica</em>)</strong> tak lama muncul diikuti sekelompok burung <strong>Trinil (<em>Tringa sp.</em>)</strong> yang terbang melewati tempat itu menuju ke arah timur. Karena berada dalam posisi terbang dan cukup cepat berlalu, sehingga kami tidak bisa mengidentifikasi jenis burung itu secara detail. Kelompok burung Trinil yang pertama melintas sebanyak 12 individu, beberapa waktu kemudian lewat 10 individu. Mengingat pertemuan saya yang dahulu dengan burung <strong>Trinil hijau (<em>Tringa ochropus</em></strong>) di Kesongo, Kab. Blora, kelompok burung Trinil ini memiliki tubuh dan warna yang mirip, tetapi bagian sayap bawah berwarna lebih terang. Kemungkinan burung ini adalah jenis <strong>Trinil semak (<em>Tringa glareola</em>)</strong>.</p>
<p style="justify;">Tiba gerimis datang, seekor burung <strong>Tikusan alis putih (<em>Porzana cinerea</em>)</strong> yang menyadari kehadiran saya, segera terbang menuju tempat lain. <strong>Kareo padi (<em>Amaurornis phoenicurus</em>)</strong>, menampakkan kepalanya dari balik semak. Tak jauh dari lokasi kami mengamati, terlihat 3 individu burung <strong>Cerek kalung kecil (<em>Charadrius dubius</em>)</strong> berjalan-jalan di tambak yang sedang tidak terisi air itu.</p>
<p style="justify;">Tak hanya itu saja, masih ada beberapa jenis burung yang kami temui di sana. Adalah burung <strong>Kirik-kirik laut (<em>Merops philippinus</em>)</strong>, <strong>Kuntul kerbau (<em>Bubulcus ibis</em>)</strong>, <strong>Cekakak jawa (<em>Halcyon cyanoventris</em>)</strong>, <strong>Tekukur biasa (<em>Streptopelia chinensis</em>)</strong>, <strong>Cici padi (<em>Cisticola juncidis</em>)</strong>, <strong>Perenjak padi (<em>Prinia inornata</em>)</strong>, <strong>Layang-layang api (<em>Hirundo rustica</em>)</strong>, <strong>Wiwik uncuing (<em>Cacomantis sepulcralis</em>)</strong>, <strong>Cucak kutilang (<em>Pycnonotus aurigaster</em>)</strong>, <strong>Remetuk laut (<em>Gerygone sulphurea</em>)</strong>, dan <strong>Bentet kelabu (<em>Lanius schach bentet</em>)</strong>.</p>
<p style="justify;">Pukul 12 siang, kami-pun mengakhiri pengamatan. Sambil beristirahat sejenak, kami melihat kereta yang sedang melintas. Jenis burung terakhir yang mengisi buku pengamatan kami pada tanggal 20 Desember 2008, adalah <strong>Cekakak sungai (<em>Todirhamphus chloris</em>)</strong> yang datang dan hinggap di kabel listrik tak jauh dari tempat kami duduk.</p>
<p style="justify;">Pengamat :<br />
Dwi Putranto (Tomang), Kavita Hevarina. (Haliaster, SBC).</p>
<p style="justify;">(Posted by Kavita Hevarina in &#8220;Birdwatching at Jerakah Wetland&#8221;, 18 Desember 2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/archives/24/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Birdwatching bersama KESEMAT</title>
		<link>http://sbc.web.id/archives/22</link>
		<comments>http://sbc.web.id/archives/22#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 12:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[burung]]></category>
		<category><![CDATA[Jepara]]></category>
		<category><![CDATA[Kelautan UNDIP]]></category>
		<category><![CDATA[KESEMAT]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Burung Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[SBC]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang Bird Community]]></category>
		<category><![CDATA[Teluk Awur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Teluk Awur, Minggu, 30 November 2008 (mengamati burung di hutan mangrove Jepara) Akhir bulan November kemarin teman-teman SBC berkunjung ke hutan mangrove Teluk Awur garapan dari teman-teman KESEMAT, Kelautan UNDIP. Beberapa hari sebelumnya SBC dapat berita bahwa hutan mangrove tersebut dihuni oleh beberapa jenis burung. Mereka menyebutnya dengan BBM (Burung-Burung Mangrove). Hari Minggu kami mendapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="justify;">Teluk Awur, Minggu, 30 November 2008</p>
<p style="center;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/img_3964.jpg" ><img class="aligncenter size-medium wp-image-29" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/img_3964.jpg" alt="" width="213" height="159" /></a></p>
<p style="center;">(mengamati burung di hutan mangrove Jepara)</p>
<p style="center;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/on-the-spot.jpg"><br />
</a></p>
<p>Akhir bulan November kemarin teman-teman SBC berkunjung ke hutan mangrove Teluk Awur garapan dari teman-teman KESEMAT, Kelautan UNDIP. Beberapa hari sebelumnya SBC dapat berita bahwa hutan mangrove tersebut dihuni oleh beberapa jenis burung. Mereka menyebutnya dengan BBM (Burung-Burung Mangrove).</p>
<p style="justify;">Hari Minggu kami mendapat undangan ke hutan Mangrove tersebut. Berangkat dari rumah untuk kumpul di basecamp KESEMAT daerah Ngesrep Barat jam 6.30. Sampai di Base camp kami, disambut oleh tuan rumah. Mas Nanto menyambut kami dengan hangat, sehangat teh yang disodorkan kepada kami.</p>
<p style="justify;">Sambil menunggu teman-teman Mangrover KESEMAT bersiap-siap kami melakukan Pengamatan Burung di sekitar basecamp. Kebetulan disebelah basecamp ada sebidang tanah dengan banyak semak. Ada beberapa burung yang tertangkap binokular saat itu. Cinenen Pisang, Prenjak Coklat, Tekukur Biasa, Walet Sapi. Cekakak Jawa melintas dengan suara khasnya. Beberapa gerombol kuntul kecil terbang dengan anggun membentuk formasi huruf V diangkasa.<br />
Pagi yang cerah…</p>
<p style="justify;"><span id="more-22"></span><br />
Sesaat kemudian, kami harus bersiap untuk meluncur ke Teluk Awur. Tepat jam 8.00 kami bertolak meninggalkan kota Semarang menuju Jepara. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Jalanan yang harus dilalui sangat panas dan berdebu.<br />
Setelah 2 jam perjalanan kami tiba di kampus Kelautan dan Ilmu Perikanan Teluk Awur Jepara. Disambut oleh teman-teman Mangrover yang sudah <em>stand by</em> disana lebih dulu. Meskipun kami belum kenal sebelumnya tapi suasana yang tercipta cukup hangat..<br />
SBC diwakili oleh Atmojo, Tomang, dan Kavita.<br />
Teman-teman Mangrover KESEMAT mengajak kami berkeliling di kawasan hutan mangrove dan bercerita banyak tentang masalah-masalah yang ada. Mereka adalah Mas Aris Priyono, Isna Bahtiar, Windy Indra, Indriatmoko, Sunanto, Fahmi, Dhira. Mereka menjelaskan kepada kami karakteristik mangrove yang ada di Teluk Awur Jepara. Dan dari tim SBC memperkenalkan kegiatan Birdwatching kepada mereka.<br />
Sepanjang perjalanan menyusuri pantai Teluk Awur menuju hutan mangrove kami melakukan birdwatching. Kebetulan saat itu kami bertemu Trinil Pantai yang sedang bermain-main di atas batu karang. Kami juga berusaha menyampaikan nilai penting burung untuk konservasi wilayah pesisir.<br />
Sampai akhirnya kami tiba di hutan mangrove yang mereka tunjukkan. Memang benar, di situ terdapat banyak burung yang kami identifikasi sebagai burung Kowak Malam Kelabu. Ada sekitar 80 individu Kowak Malam Kelabu dari berbagai umur.</p>
<p style="center;"><a href="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/on-the-spot.jpg" ><img class="aligncenter size-medium wp-image-28" src="http://sbc.web.id/blog/wp-content/uploads/on-the-spot.jpg" alt="" width="235" height="176" /></a></p>
<p style="center;">(SBC bersama teman Mangrover Kesemat)</p>
<p style="justify;">Kami mencoba masuk kedalam hutan mangrove tersebut. Kami berharap hutan mangrove tersebut digunakan sebagai sarang.<br />
Namun setelah berjalan menembus hutan mangrove dan harus bergelut dengan lumpur, kami tidak menemukan sarang satupun. Mangrove tersebut hanya digunakan sebagai tempat mencari makan bagi mereka.<br />
Kurang puas karena hanya menemukan sedikit jenis burung kami melakukan pengamatan disekitar tepian hutan Mangrove. Total ada sekitar 27 jenis burung yang kami temui di kawasan mangrove Teluk Awur. Mereka adalah Trinil Pantai, Cinenen Pisang, Merbah Cerucuk, Burung Madu Sriganti, Kowak Malam Kelabu, Cinenen Kelabu, Kipasan Belang, Bondol Peking, Bondol Jawa, Burung Cabai Jawa, Tekukur Biasa, Kekep Babi, Kareo Padi, Tikusan Alis Putih, Layang-layang Batu, Layang-layang Api, Alap-alap Sapi, Dara Laut Kecil, Cuca Kutilang, Remetuk Laut, Cekakak Sungai, Cekakak Jawa, Blekok Sawah, Bentet Kelabu, Kuntul Kecil, Prenjak Coklat, Kokokan Laut. Segerombolan burung kacamata melintas dengan suaranya yang khas. Namun sayang kami tidak mampu mengidentifikasi jenisnya.<br />
Di sekitar kampus kami menemukan jejak-jejak kotoran burung Serak Jawa. Saat kami menanyakan pada teman-teman Mangrover mereka menyatakan pernah melihat burung dengangciri-ciri yang kami sebutkan tersebut. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan penjaga malam yang ada di kampus tersebut.<br />
Akhir pertemuan kami berdiskusi tentang gambaran masing-masing organisasi.<br />
Hari menjelang malam, tepatnya jam 5 kami bertolak dari Teluk Awur, Jepara, meluncur menuju Semarang. Tiba di Semarang pukul 8.00 malam. Hari yang melelahkan namun cukup menyenangkan karena kami bertemu dengan kawan baru.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/archives/22/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>in bird we trust&#8230;.</title>
		<link>http://sbc.web.id/archives/21</link>
		<comments>http://sbc.web.id/archives/21#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 05:48:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haliaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[burung]]></category>
		<category><![CDATA[gejala alam]]></category>
		<category><![CDATA[in bird we trust]]></category>
		<category><![CDATA[indikator]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sbc.web.id/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang kita ketahui selama ini burung merupakan kelompok makhluk hidup yang berperan sebagai sumber protein, penyebar biji, penyerbuk tanaman serta sebagai pengendali hama. Dan hal tersebut telah dijelaskan secara logis dalam pelajaran Biologi di setiap jenjang sekolah. Namun kini, ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa kelompok makhluk hidup tersebut memiliki kemampuan sebagai indikator gejala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang kita ketahui selama ini burung merupakan kelompok makhluk hidup yang berperan sebagai sumber protein, penyebar biji, penyerbuk tanaman serta sebagai pengendali hama. Dan hal tersebut telah dijelaskan secara logis dalam pelajaran Biologi di setiap jenjang sekolah. Namun kini, ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa kelompok makhluk hidup tersebut memiliki kemampuan sebagai indikator gejala alam, indikator kerusakan suatu lingkungan, dan sebagai alat/sistem peringatan dini terjadinya gejala alam.<span id="more-21"></span></p>
<p>Sebenarnya, kemampuan burung tersebut telah dipercayai sejak dulu kala. Orang Jawa dulu, sangat mempercayai bahwa suara burung Gagak menandakan akan ada orang yang akan meninggal, suara burung Cinenen (Jawa : Prenjak) menandakan akan hadirnya seorang tamu, dan suara kicauan burung Srigunting menunjukkan akan datangnya masa tanam padi.  Namun, kemampuan di atas belum mampu diterjemahkan secara logika sehingga banyak yang meninggalkan/tidak percaya atas kemampuan burung tersebut.</p>
<p>Peneliti yang optimistik berprinsip bahwa tidak bisa diterjemahkan secara logis bukan berarti tidak benar. Mereka berusaha membuat catatan dari setiap kejadian yang terkait dengan burung dan gejala alam. Dalam beberapa catatan tersebut ada kecenderungan semakin tersingkapnya kemampuan burung dalam menandai gejala alam terutama melalui perilakunya.</p>
<p>Setelah tsunami yang menghancurkan Aceh terjadi banyak catatan-cataatan yang mencengangkan terkait dengan kemampuan makhluk bersayap tersebut. Ada beberapa catatan yang dapat dikutip dari Kompas (dalam Majalah Kabar Burung edisi II 2005) menuliskan bahwa sesaat sebelum Aceh diluluh-lantakkan oleh tsunami Vera Marita seorang mahasiswi Universitas Syah Kuala Banda Aceh dapat selamat karena menuruti saran tetangganya untuk melarikan diri ke arah yang sama dengan ratusan burung camar laut yang terbang menjauhi laut.</p>
<p>Selain itu di India, sesaat sebelum tsunami terjadi, burung-burung Flamingo yang sedang bertelur di taman Margasatwa Point Calimere menunjukkan keanehan dan tiba-tiba kawanan burung tersebut terbang menuju ke tempat yang lebih tinggi.</p>
<p>Dua catatan yang menarik. Burung mampu menunjukkan kemampuannya sebagai <em>early warning system </em>(sistem peringatan dini) akan hadirnya bencana alam. Sesuatu yang sebenarnya sangat kita harapkan dari sebuah kemajuan tekhnologi.</p>
<p>Mungkin di zaman se-modern ini sangat tabu bagi sebagian kalangan manusia mempercayai kemampuan makhluk lain. Namun sebelum ada tekhnologi terpercaya yang mampu menjawab hal tersebut tidak ada salahnya kita percaya pada burung. &#8230;<em>In bird we trust</em></p>
<p>(Tomang dalam &#8220;&#8230;in bird we trust&#8221; August, 25th 2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sbc.web.id/archives/21/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

