AWC dan SBW di Sayung, Demak

February 16th, 2009

Sayung, Demak 17 Januari 2009.

(Semarang Bird Walk 2009 & AWC di Sayung Demak)

Pesisir Pantai Utara Semarang memiliki karakteristik bergelombang rendah dan berpasir lumpur sehingga memiliki potensi pakan bagi burung-burung air dan burung pantai. Demikian juga dengan daerah Sayung, Demak. Daerah ini merupakan daerah singgah bagi burung pantai migran dan juga merupakan “feeding ground” (sumber makanan) bagi burung-burung penetap yang ada di pesisir pantai utara.

Tanggal 17 Januari yang lalu, Semarang Bird Community (SBC) melakukan pengamatan di daerah tersebut. Bersama dengan rekan Pecinta Alam Matrapala dan Mapateksi UNDIP, kami melakukan pemantauan di daerah Sayung, Demak.

Lokasi pengamatan secara administratif termasuk dalam Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Secara geografis lokasi penelitian berada pada posisi 6º55’44” LS dan 110º29’42” BT.

(Foto Udara Lokasi Pengamatan Sayung, Demak)

Kegiatan ini sebenarnya adalah salah satu dari rangkaian kegiatan yang berjuluk Semarang Bird Walk 2009 (SBW 2009). Berhubung waktunya bertepatan dengan kegiatan AWC (Asian Waterbird Censuss) yang diselenggarakan Wetland Indonesia maka kegiatan tersebut dilaksanakan secara bersamaan.

Tiba di lokasi sekitar pukul 08.15, kamipun segera bergegas mempersiapkan peralatan yang kami bawa. Monokuler, Tripod, Binokuler, Buku Panduan, Kamera, Buku Catatan kami siapkan. Sebelum menjelajahi lokasi pengamatan kami sempat berbincang-bincang dengan warga setempat untuk sekedar mencari informasi tentang pasang surut serta keadaan lokasi.

Setelah sedikit berbincang, kamipun meluncur ke lokasi pengamatan. Pertama-tama kami harus melintasi jembatan yang terbuat dari batang bambu. Angin yang kencang terus menghempas tubuh kami. Setibanya diseberang kami memulai pengamatan. Arah monokular kami tujukan ke arah gundukan lumpur serta tegalan-tegalan yang diduga banyak kawanan burung. Kami mulai menyisir tiap tegalan, mngidentifikasi tiap burung yang kami temui, serta menghitung kawanan burung yang melintas dan tertangkap mata.

Satu setengah jam kami habiskan untuk menyisiri tiap gundukan lumpur tersebut. Kemudian perjalanan menjadi sangat menantang. Di depan kami lumpur sedalam paha orang dewasa menghadang. Jurus meringankan tubuhpun harus digunakan jika tidak ingin terjebak dalam lumpur lebih dalam.

Selanjutnya, kami harus meniti dua bilah bambu yang dipasang sebagai jembatan untuk menghindari lumpur yang lebih dalam. Meniti di atas bambu ini harus penuh konsentrasi. Bilah bambu yang dipasang setinggi 1 meter dari atas tanah, ditambah dengan terpaan angin pantai sangat mengganggu keseimbangan kami, jadi untuk sementara pengamatan tidak dilakukan.

Setelah melewati jembatan bambu sepanjang 300 meter kami masuk ke hutan mangrove yang penuh dengan burung Kuntul Kerbau, Kuntul Kecil, Kuntul Besar. Riuh sekali suara yang mereka timbulkan karena kedatangan kami. Bau kotoran yang menyengat hidung kami membuat kami harus segera menuju ke pesisir pantai, mengidentifikasi kawanan burung yang berada di gosong-gosong pasir.

Pengamatan kami lanjutkan dengan menyisir daerah seberang yang kebetulan juga ditumbuhi dengan mangrove. Dengan menggunakan monokuler kami menghitung burung yang ada di manrove tersebut. Kawanan Kowak Malam Kelabu dan Kowak Malam Merah berhamburan karena diserang oleh seekor falco. Jarak yang cukup jauh sangat sulit mengidentifikasi jenis Falco tersebut. Warnanya gelap dan kami yakin itu Falco dari bentuk sayap yang meruncing.

Kawanan Cerek Jawa hilir mudik berlarian di atas gosong pasir. Sesekali mereka mendapatkan mangsa. Gerombolan Kuntul Kecil dan Kuntul Kerbau yang tidak pernah berhenti terbang memenuhi jalur terbang yang ada.

Matahari semakin terik dan airpun mulai pasang kamipun menghentikan pengamatan. Saat itu jam menunjukkan pukul 12.30. Kami harus menghadapi rintangan yang sama dengan saat kami berangkat. Kemudian sesampai di tempat kami menitipkan sepeda motor kami, kami mulai bersih-bersih. Setelah bersih-bersih kami melakukan koordinasi data spesies dan jumlah yang kami temui.

Nama Spesies Nama Ilmiah Jumlah
Trinil Pantai Actitis hypoleucos 4
Kuntul Kecil Egretta garzetta >100
Kuntul Kerbau Bubulcus ibis >100
Kuntul Besar Egretta alba
Kipasan Belang Rhipidura javanica 3
Cerek Kernyut Pluvialis fulva 1
Remetuk Laut Gerygone sulphurea 5
Cangak Merah Ardea purpurea 6
Cerek Jawa Charadrius javanicus 6
Trinil Kaki Hijau Tringa nebularia 14
Blekok Sawah Ardeola speciosa
Gajahan Pengala Numenius phaeopus 4
Kokokan Laut Butorides striatus
Cekakak Sungai Todirhampus chloris 1
Kowak Malam Kelabu Nycticorax nycticorax
Kowak Malam Merah Nycticorax caledonicus
Unident. Falco
Cangak Abu Ardea cinerea
Kuntul Karang Egretta sacra 1

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind

    Events Calendar
    September 2010
    MonTueWedThuFriSatSun
      
     1 2 3 4 5
    6 7 8 9 10 11 12
    13 14 15 16 17 18 19
    20 21 22 23 24 25 26
    27 28 29 30  
    Bird Friend
    Environment Network
    Online

professional web hosting