Fenomena Migrasi Burung Pemangsa
(Penggaron’s raptor migration watch)
Setelah bergabung menjadi anggota Jaringan Pemantau Migrasi Burung Pemangsa Indonesia, SBC (Semarang Bird Community) sejak awal bulan Februari 2006 mulai melakukan pelacakan jalur terbang burung-burung tersebut di wilayah udara Semarang. Bersama dengan Organisasi Pecinta Aalam HALIASTER UNDIP, Kelompok Studi Burung PELATUK UNNES dan Green Community UNNES, SBC mulai menelusuri dan mempetakan jalur terbang migrasi burung pemangsa menuju dan keluar wilayah udara Semarang.
Fenomena migrasi burung pemangsa ini sebenarnya terjadi setiap tahun sejak puluhan tahun yang lalu. Burung-burung pemangsa dari belahan bumi utara melakukan perpindahan tempat dari tempat asalnya untuk menghindari musim dingin. Ada 26 jenis burung pemangsa yang melakukan migrasi melintasi wilayah Indonesia, namun dari ke 26 jenis burung pemangsa tersebut hanya 3 jenis burung pemangsa yang paling umum dijumpai dalam jumlah besar. Ketiga spesies tersebut adalah Sikep Madu Asia (Pernis ptylorhynchus orientalis), Elang Alap Cina (Accipiter soloensis) dan Elang Alap Nipon (Accipiter gularis).
Bulan September hingga November menjadi waktu dimana gerombolan burung dalam jumlah besar masuk ke wilayah Indonesia dan kemudian akan kembali lagi ke belahan bumi utara pada bulan Maret hingga Mei.
Indonesia sebagai negara yang beriklim tropis menjadi salah satu negara tempat pemberhentian terakhir dari migrasi burung tersebut. Ada beberapa lokasi penting di Indonesia dimana kita dapat menyaksikan migrasi burung pemangsa dalam jumlah besar yaitu Pulau Rupat, Pelabuhan Merak, Puncak, Pegunungan Dieng, Hutan Wisata Penggaron Semarang, Gardu Pandang Merapi, Bromo Tengger, Taman Nasional Bali Barat dan Sangir Talaud.
Karyadi Baskoro, koordinator SBC yang aktif melakukan pemantauan di Hutan Wisata Penggaron menyatakan bahwa untuk migrasi burung-burung pemangsa tercatat dalam gerombolan lebih besar pada arus balik dibandingkan dengan arus datang. “Pada pemantauan migrasi balik tahun 2007 ini telah tercatat 10.282 individu dari jenis Elang-Alap Cina, 30 individu Elang-Alap Nipon dan 746 Sikep Madu Asia” ujarnya. Data tersebut didapatkan dari pemantauan sepanjang bulan Maret 2007.
Beliau menyebutkan bahwa untuk arus balik kali ini jauh lebih banyak dibandingkan arus balik tahun sebelumnya. Data pada arus balik tahun sebelumnya menunjukkan setidaknya 5949 individu burung melintasi wilayah hutan wisata Penggaron. Pemantauan dilakukan selama 35 hari dari pertengahan bulan maret hingga pertengahan bulan April. Namun penyebab peningkatan jumlah yang cukup besar ini tidak mampu dipastikan oleh beliau.
Hutan Wisata Penggaron ini diduga kuat merupakan “bottle neck” atau penggabungan antara jalur Demak dan jalur Purwodadi (Jalur Pegunungan Kapur Utara) kemudian dari Hutan Wisata Penggaron migrasi tersebut akan bergerak menuju daerah Gunung Pati dan selanjutnya menuju ke Pegunungan Dieng.
Dalam pemantauan ini juga tercatat beberapa kali hutan wisata Penggaron menjadi tempat bertengger (rosting site) untuk menghindari cuaca buruk dan tempat berburu (feeding ground) burung migran untuk sekedar mengisi ulang energi selama perjalanan.
Pemantauan ini dilakukan sebagai upaya untuk mengumpulkan data dasar ekologi dan konservasi spesies tersebut di Indonesia termasuk di dalamnya jalur migrasi dan daerah pemberhentian akhir dari migrasi burung pemangsa tersebut.
(posted by hilman nur awalluddin in “Fenomena Migrasi Burung Pemangsa”, July 5th 2008)
Filed under Activities |One Response to “Fenomena Migrasi Burung Pemangsa”
Leave a Reply





Kepada rekan-rekan semua birdwatcher.. kami menghimbau membangun kerja sama dalam observasi dan pertukaran data keragaman jenis burung. Semoga dapat bermanfaat bagi perkembangan keragaman & kelestarian burung indonesia.
Nur Arif Makful
Department Biologi
Univ. Assyafiiyah Jakarta.