Dosa Para Ornitholog

Juli 5th, 2008

Maaf bukan bermaksud provokasi, dengan judul di atas. Cuma sekedar mengajak merenung bagi kita yang mengaku sebagai ornitholog (pengamat, pelestari, dan sahabat burung)

Banyak dari ornitholog (maaf) oknum-oknum ornitholog yang lebih memilih untuk meneliti kelompok elang, burung eksotis dan atau burung-burung yang terancam punah. Alasannya mungkin masalah prestise, selain itu juga penelitian-penelitian terhadap 3 kategori burung itu menyediakan ‘lahan basah’ bagi mereka. Tetapi hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak lazim jika burung yang biasa-biasa saja juga tidak mereka sentuh.

Mungkin mereka terlena dengan nama besar ketiga kelompok burung di atas. Tapi ingat bahwa burung-burung biasa juga berperan besar bagi lingkungan sekitar dan bukannya tidak mungkin adanya suatu asosiasi antar burung-burung tersebut.

Kadang juga kita sebagai pengamat dan ornitholog terlalu asyik untuk mengamati burung di daerah yang telah menjadi hot spot bagi pengamatan burung, namun tidak sadar kalau lingkungan sekitar kita sendiri telah berubah menjadi tidak ramah terhadap burung. Continue reading »

Falco Airshow

Juli 5th, 2008

Saat mentari hendak kembali ke peraduaannya. Saat siang beranjak senja. Kami di markas UNDIP Tembalang asyik menikmati segelas caffeine. Liak-liuk asap di atas permukaan kopi seindah liukan goyang ngebor Inul Daratista. Hangatnya kopi sehangat persahabatan yang tercipta antar anggota dan pengurus yang ada saat itu. Ditemani singkong rebus yang diambil dari kebun belakang kampus. Kamipun menikmati indahnya sore hari itu.

Petang menjelang, sang kelelawar berhamburan dari atap kampus Fakultas Mesin UNDIP. Jumlahnya ratusan atau mungkin mencapai ribuan. Berhamburan menyongsong malam yang mulai kembali datang. Datang dari arah timur dengan kecepatan tinggi seekor alap-alap. Kami identifikasi sebagai alap alap sapi (Falco moluccensis).

Mengepak, meluncur, menukik menyambar salah satu kelelawar yang beterbangan. Karena tidak menemui sasarannya sang alap-alap pun terbang ke atas dan berbalik arah. Mengepak, menukik dan meluncur.

Happpp!!! Continue reading »

Migrasi Burung berdasarkan Magnet Bumi

Juli 5th, 2008

Fenomena migrasi burung telah terjadi sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Fenomena ini terjadi karena beberapa sebab diantaranya adalah untuk menghindari suatu musim yang kurang bersahabat (terlalu dingin atau terlalu panas) dan atau karena menurunnya jumlah pakan/mangsa burung tersebut dalam kurun waktu sementara.
Ada beberapa hipotesis yang telah dikemukakan bahwa proses migrasi burung dari tempat asal menuju tempat hidup baru -sementara- nya itu menggunakan bantuan matahari dan kemampuan mereka dalam mendeteksi medan magnet bumi.
Seperti diketahui pada burung teruatama burung air atau burung pantai tetap melakukan migrasi pada malam hari, dimana cahaya sangat minim untuk mengenali suatu objek benda apalagi untuk mengenali arah. Beberapa ilmuwan meyakini bahwa mereka melakukan migrasi berdasarkan medan magnet bumi
Para ilmuwan telah mencoba menguak misteri kemampuan burung dalam mendeteksi medan magnet hampir selama empat dekade, namun belum ada pendekatan model/teori yang cukup kuat yang mampu membuktikan kemampuan tersebut. Continue reading »

Makam sebagai Pelarian Terakhir Burung

Juli 5th, 2008

Di kota-kota besar, dimana pertumbuhan penduduk dan pembangunan begitu cepat akan menimbulkan masalah bagi lingkungan. Salah satunya adalah hilangya ruang terbuka hijau sebagai habitat burung. Pemukiman di wilayah perkotaan tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk tumbuhnya tanaman-tanaman di wilayah ini. Jangankan tumbuh-tumbuhan seperti semak, ilalang atau rerumputan sebagai material sarang, tanaman-tanaman seperti pohon sebagai sumber pakan dan tempat bermain burung pun sangat jarang.

Satu-satunya ruang terbuka hijau yang masih mungkin akan tersisa di daerah perkotaan adalah area makam (cemetary). Bukan suatu hal yang tidak mungkin kalau nantinya di saat daerah perkotaan tidak mampu lagi memelihara ruang terbuka hijau, maka burung-burung tersebut akan memanfaatkan area makam sebagai habitat barunya. Continue reading »

Uniknya Jawa

Juli 5th, 2008

Terlepas dari uniknya Jawa dari sudut pandang antropogenik, Jawa menyimpan keunikan lain yaitu berupa kekayaan keanekaragaman hayati. Memang, meskipun luas wilayah Pulau Jawa tidak terlalu besar, serta tingkat kerusakan habitat yang cukup besar akibat perubahan tata guna lahan sejak dahulu kala, namun masih ada “sisa” keanekaragaman hayati yang bernilai. Beberapa jenis diantaranya merupakan jenis endemik, yang artinya hanya dapat dijumpai di Jawa saja dan tidak ada di daerah lain.

Di Pulau Jawa tercatat memiliki 6.534 jenis flora yang termasuk dalam 580 marga. Dari sekian banyak jenis flora tersebut, telah diketahui kekayaan jenis Paku-pakuan sebanyak 519 jenis, gymnosperm 29 jenis, monokotil 1924 jenis, dan dikotil 4062 jenis. Banyaknya catatan jenis-jenis flora ini tidaklah mengherankan, karena Jawa merupakan lokasi yang paling diketahui mengenai botaninya di Asia Tenggara.

Seringkali pula disebutkan bahwa Jawa hanya memiliki sedikit spesies endemik. Namun demikian tercatat tidak kurang 325 flora endemik. Dari 731 jenis anggrek yang ada di Jawa, terdapat 217 anggrek endemik. Dapat disebutkan beberapa contoh flora endemik yang ada di Jawa: Vanda tricolor (Anggrek), Nastus elegantissimus, Bambusa cornuta (Bambu), Zingiber odoriferum (Empon-empon), Pinanga javanica (Palem) Calamus melanomola (Rotan), Anaphalis javanica (Edelweiss), Pisonia grandis (Wijaya Kusuma). Continue reading »

    Kalender Kegiatan
    September 2010
    SenSelRabKamJumSabMin
      
     1 2 3 4 5
    6 7 8 9 10 11 12
    13 14 15 16 17 18 19
    20 21 22 23 24 25 26
    27 28 29 30  
    Sahabat Burung
    Jaringan Lingkungan
    Online

professional web hosting