BBM Naik Birdwatching Tetap Asyik
Tepat jam 21.00 WIB, hari Jumat tanggal 23 Mei 2008 Presiden SBY mengumumkan kenaikan harga BBM. Hal tersebut terjadi berkaitan dengan melonjaknya harga minyak dunia. Hal tersebut tentunya menjadi berita buruk bagi kami karena keesokan harinya Sabtu 24 Mei kami berencana melakukan pengamatan burung di Gedong Songo. Jumat malam saya berusaha antri di SPBU terdekat ternyata antrian sudah panjang sekali. Karena antriannya terlalu panjang saya jadi malas untuk mengantri.
Keesokan paginya terpaksa saya harus membeli premium dengan harga baru 6000/liter. Yah antara terpaksa dan tidak terpaksa. Tapi beruntung saat itu ada teman-teman kami dari Biologi UNDIP yang sedang akan melakukan praktikum lapangan di Gedong Songo, kebetulan juga beberapa diantaranya kami kenal. Dengan sedikit merayu, bermanis-manis bibir dan bertampang memelas akhirnya kami dipersilahkan ikut kedalam rombongan. Sepeda motor saya titipkan di salah satu kos anggota rombongan yang terdekat.
Berangkat dari Tembalang sekitar jam 07.43 ya harap maklum karena kami nebeng jadi terpaksa kami harus mengikuti jadwal panitia. Kami berempat dani, mudin, saya dan pak bas semula berencana berangkat dari Tembalang sekitar 06.00 namun terpaksa harus berangkat jam 07.43.
Setelah menempuh kurang lebih 1 jam perjalanan kami tiba di Kawasan Wisata Candi Gedong Songo. Karena hari Sabtu retribusi naik menjadi 6000/orang, terpaksa kami harus iuran. Besar sekali dampak kenaikan BBM bagi kehidupan manusia. Saat kami melihat ada penjaja nasi bungkus kami berniat membeli nasi tersebut sebagai sarapan pagi. Namun karena harganya yang terlalu tinggi 4.500/bungkus kami tidak jadi membeli nasi tersebut.
Kami masuk ke kawasan Candi Gedung Songo dan mulai pengamatan sekitar 09.15. Langit cerah, kecepatan angin sedang dengan suhu rata-rata sekitar 25 derajat. Kehadiran kami disambut dengan suara khas dari Cica Koreng Jawa. Walet Sapi, Bentet Kelabu dan Kutilang saling hilir mudik sepanjang pengamatan kami. Berhubung saya baru beberapa kali pengamatan burung, jadi saya belum mampu mengidentifikasi jenis-jenis burung yang ada di situ dengan cepat. Di antara kami berempat hanya saya dan Mudin yang paling lama mengidentifikasi. Beruntunglah teman kami Pak Bas dan Dani sudah sering melakukan pengamatan burung sehingga bisa mengajari kami dalam mengidentifikasi jenis-jenis burung yang ada disitu.
Kemudian di salah satu pohon datanglah gerombolan Kacamata Biasa. Suaranya berdericit jika dari suaranya sekitar 20-30 an individu. Dari kejauhan terdengar suara burung yang menurut Pak Bas itu adalah suara khas dari burung Wiwik Kelabu, kemudian selang beberapa menit kemudian terdengar suara sayup-sayup Sikatan Ninon. Karena penasaran sayapun membuka kitab Mc Kinnon . Dari buku identifikasi tersebut ternyata jenis-jenis burung ini sangat indah. Di pinggiran sungai melintas seekor burung Raja Udang tapi tidak begitu jelas jenis Raja Udang apa. Menurut Dani yang sempat melihat begitu dekat menyebutkan itu Raja Udang Meninting,
Burung Merbah Cerucuk terus bersahut-sahutan dengan Cica Koreng Jawa. Kemudian melintas dengan suara serak berwarna hitam, biru, ungu dan berparuh merah yaitu Cekakak Jawa satu-satunya jenis burung yang berhasil saya identifikasi saat itu. Burung kecil yang memiliki karakter kaki pemanjat bermain diantara batang-batang pohon pinus, berpindah satu batang ke batang yang lain, pohon yang satu ke pohon yang lain. Jenis burung pelatuk, Pak Bas menyebutnya Caladi Tilik. Diantara pohon pinus juga terdapat burung Gelatik Watu yang sedang asyik menyantap ulat daun.
Dari arah tebing tinggi meluncur ke arah lembah seekor Elang Hitam, bentangan sayapnya panjang warna tubuhnya hitam gelap. Menurut Dani burung ini dapat diidentifikasi melalui bentuk ujung ekornya yang cenderung kotak. Kemudian dari salah satu pohon terlihat burung yang mirip dengan burung kacamata, berwarna hijau dan memiliki suara kicau yang sangat bagus yaitu burung Cipoh Kacat, orang awam menyebutnya dengan Sirthu. Dari arah lembah agak kejauhan terbang dengan gagahnya Burung Elang Ular Bido. Menurut Dani elang ini paling mudah diidentifikasi dan paling sering dijumpai. Jika terbang burung ini bersuara kliiiik….kliiiiikkkk…klliiiiikk atau jika terbang cenderung membentuk huruf C jika nampak dari bawah dan huruf V jika nampak dari arah depan.
Di antara pohon pinus tiba-tiba Pak Bas berlari-lari seperti mengejar suatu burung, beliau mengamati dengan teliti satu jenis burung. Kami pun berhasil melihat burung tersebut. Dengan bantuan binokuler kami melihat seekor burung berukuran sedang, seukuran Kutilang namun lebih besar sedikit, berwarna hitam keabu-abuan dengan dada bergaris-garis samar. Karena tidak ada warna yang khas atau corak-corak tertentu Saya dan Mudin tidak bisa mengidentifikasinya. Dani menyebutnya itu jenis Kepodang Sungu Jawa. Kebetulan burung jenis ini belum pernah terjumpai di Kawasan Gedong Songo.
Pada sekitar jam 11 kami bertemu dengan gerombolan pemburu. Jumlah mereka sekitar 6 orang, 2 senjata senapan angin dan ditemani dengan 8 ekor anjing. Saat kami tanya sedang mencari apa, mereka menyebut sedang berburu burung dan bajing. Oh alangkah malangnya burung-burung yang terburu oleh mereka terkulai lemas tak bernyawa.
Pengamatan kami akhiri pukul 12.13 karena kami harus turun menuju parkir bus. Takut kalau-kalau teman-teman akan meninggal kami. Pengalaman ini sangat berkesan karena kami bisa menikmati pengamatan burung di tengah kenaikan BBM. Saya bertekad suatu saat nanti saya pasti akan bisa mengidentifikasi secepat dan setepat Pak Bas dan Dani. Selain itu juga saya akan berusaha melindungi burung di alam dan juga menjaga habitat sebagai rumah tinggalnya.
(posted by tomang in “BBM Naik Birdwatching Tetap Asyik”, May 26th 2008)
Filed under Aktivitas | Comment (0)Leave a Reply
