Migrasi Burung berdasarkan Magnet Bumi

July 5th, 2008

Fenomena migrasi burung telah terjadi sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Fenomena ini terjadi karena beberapa sebab diantaranya adalah untuk menghindari suatu musim yang kurang bersahabat (terlalu dingin atau terlalu panas) dan atau karena menurunnya jumlah pakan/mangsa burung tersebut dalam kurun waktu sementara.
Ada beberapa hipotesis yang telah dikemukakan bahwa proses migrasi burung dari tempat asal menuju tempat hidup baru -sementara- nya itu menggunakan bantuan matahari dan kemampuan mereka dalam mendeteksi medan magnet bumi.
Seperti diketahui pada burung teruatama burung air atau burung pantai tetap melakukan migrasi pada malam hari, dimana cahaya sangat minim untuk mengenali suatu objek benda apalagi untuk mengenali arah. Beberapa ilmuwan meyakini bahwa mereka melakukan migrasi berdasarkan medan magnet bumi
Para ilmuwan telah mencoba menguak misteri kemampuan burung dalam mendeteksi medan magnet hampir selama empat dekade, namun belum ada pendekatan model/teori yang cukup kuat yang mampu membuktikan kemampuan tersebut.
Teori awal mengenai kemampuan burung dalam mendeteksi medan magnet dikemukakan oleh Klaus Schulten dari Universitas Illinois, AS. Beliau mengungkapkan bahwa terdapat suatu molekul-molekul spesifik pada mata atau otak burung-burung migran yang peka terhadap medan magnetik bumi. Teori ini tentunya menimbulkan perdebatan dikalangan ilmuwan. Kemudian teori ini mulai dipelajari untuk dimentahkan atau dibuktikan oleh beberapa ilmuwan, namun hingga hampir empat puluh tahunan tak satupun ilmuwan yang mampu membuktikan teori tersebut.
Baru-baru ini, seperti dilansir dalam Jurnal Ilmiah Nature, para peneliti berhasil menemukan suatu model teori yang hampir mendekati pendapat Klaus Schulten. Henrik Mouritsen dari Universitas Oldenburg, Jerman berpendapat bahwa kemungkinan molekul-molekul tersebut adalah cryptochrome. Beliau menjelaskan bahwa protein tersebut terdapat dalam retina burung migran. Sel-sel protein juga diketahui aktif setiap petang menjelang saat burung tersebut tidak dapat mengandalkan cahaya untuk melihat benda-benda disekitarnya.
Cryptochrome selama ini dikenal sebagai protein yang sensitif terhadap cahaya yang berperan besar dalam mengatur jam biologi seperti pengaturan tahap pertumbuhan pada tanaman dan waktu kawin.
Dikarenakan membuat tiruan atau menemukan protein cryptochrome sangat sulit, maka untuk mempelajarinya digunakan senyawa yang memiliki sifat yang mirip yaitu CPF (carrotenoid-porphyrin-fullerene). CPF jika dipaparkan kepadanya suatu medan magnet, meskipun sangat kecil, akan bereaksi dengan melepaskan dua jenis radikal bebas.
Rekan Mouritsen, Peter Hore dari Universitas Oxford dapat mengatur konsentrasi radikal bebas sesuai medan magnet yang dipaparkan. Hore berpendapat cryptochrome pada burung mungkin diaktifkan oleh cahaya biru yang muncul saat senja dan mulai bekerja dengan mekanisme pelepasan radikal bebas untuk melihat medan magnet bumi. Namun model pendekatan tersebut belum menjawab pertanyaan secara lebih detail tentang bagaimana burung mendeteksi medan magnet bumi. Mauritsen meyakini bahwa mata burung meiliki lapisan penglihatan ganda. Ketika protein diaktifkan oleh cahaya, layar visual akan berubah menjadi semacam panel radar yang akan melihat garis-garis medan magnet bumi seperti radar pada pesawat.

(sumber : Kompas, kamis 1 mei 2008 dari WAH sumber New Scientist)

Did you like this? Share it:

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (wajib)

Email (wajib)

Situs web

Speak your mind